Ambon, Maluku— Peluncuran buku “1928 Maluku Muhammadiyah: Sejarah dan Pergerakan Muhammadiyah Maluku” pada Sabtu (29/11) di Kantor BPMP Provinsi Maluku menghadirkan momentum penting tidak hanya bagi Muhammadiyah, tetapi juga bagi dunia literasi sejarah keislaman dan kebudayaan di kawasan Timur Indonesia.
Acara yang dihadiri pimpinan Muhammadiyah, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, hingga pegiat sejarah ini menegaskan kesadaran historis bahwa dakwah dan perjuangan sosial perlu terdokumentasikan demi menjaga kesinambungan peradaban.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku, Roesda Leikawa, menyampaikan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan lembaran kertas, melainkan “monumen literasi” yang merekam jejak panjang Muhammadiyah berkiprah di Bumi Rempah sejak era pergerakan nasional.
“Penting kiranya membaca sejarah bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kekuatan motivasi bagi generasi penerus,” ungkap Roesda.
Menurut Roesda, melalui karya ini pembaca dapat menyelami bagaimana spirit Al-Ma’un dan Tajdid yang dibawa K.H. Ahmad Dahlan beresonansi dan berakar kuat di tengah pluralitas masyarakat Maluku, menghadapi beragam tantangan geografis, sosial, dan kultural.
Roesda memberikan apresiasi kepada penulis buku, Ismail Borut, yang juga Wakil Ketua MPI PWM Maluku dan dosen Universitas Muhammadiyah Maluku.
“Karya ini sebagai bukti nyata fungsi Majelis Pustaka dan Informasi sebagai “lembaga kolektif peradaban” yang menjaga dokumentasi sejarah perjuangan agar tidak hilang oleh waktu,” akuinya.
Baginya, jika kisah-kisah pengabdian tidak dicatat, maka umat akan kehilangan mata rantai penting dalam kesinambungan arah perjuangan.
Buku ini diharapkan menjadi rujukan akademik sekaligus inspirasi dakwah bagi kader, peneliti, masyarakat, dan semua pihak yang ingin memahami peran Muhammadiyah secara lebih dalam di wilayah timur Indonesia.
Sementara, Pemerintah Provinsi Maluku pun menyampaikan apresiasi tinggi atas peluncuran buku tersebut.
Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dr. Jalaludin Salampessy, yang hadir mewakili Gubernur Maluku, menyatakan bahwa Muhammadiyah selama ini merupakan mitra strategis pemerintah dalam penyediaan layanan dasar masyarakat, terutama pada bidang pendidikan, kesehatan, serta penguatan sosial lintas agama.
Ia menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat yang konsisten membantu pemerintah dan selalu berada di garis terdepan mendorong kemajuan.
Menurutnya, salah satu kontribusi paling signifikan Muhammadiyah adalah kemampuan membangun komunikasi lintas agama dan lintas sektor, baik bersama NU maupun dengan ormas Kristen dan Katolik, sehingga memberi dampak stabilitas sosial yang kuat di Maluku.
Jalaludin juga menyampaikan bahwa pemerintah mendukung perluasan peran Muhammadiyah dalam dunia pendidikan.
Berdirinya Universitas Muhammadiyah Maluku dinilai sebagai langkah besar yang memperkuat pendidikan tinggi berbasis Islam moderat.
Saat ini sekolah-sekolah Muhammadiyah telah hadir di 9 dari 11 kabupaten/kota di Maluku, sementara pada sektor kesehatan upaya pengembangan layanan terus terlihat melalui berdirinya puskesmas Muhammadiyah yang akan menjadi cikal bakal pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah di provinsi ini.
Peluncuran buku “1928 Maluku Muhammadiyah” menjadi refleksi bersama bahwa dokumentasi sejarah dakwah bukan hanya catatan masa lalu, tetapi fondasi membangun masa depan peradaban. ***





































































Discussion about this post