Om Olop, Koran, dan Perlawanan Sunyi dari Pinggir Jalan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 Juni 2025 - 08:23 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

  • Ketika gawai bicara lebih cepat, Om Olop tetap berjalan, mengingatkan kita bahwa informasi tak pernah kehilangan makna saat disampaikan dengan niat.***

Oleh: Fahrul Kaisuku

Ambon, Maluku– Di tengah riuhnya notifikasi ponsel dan derasnya informasi dari layar kaca hingga gawai genggam, sosok seorang pria paruh baya masih setia melintasi lorong-lorong Kota Ambon. Menyinggahi satu persatu rumah kopi tradisional hingga ke rumah-rumah kopi moderen yang dibuatkan barista.

Namanya Om Olop, loper koran legendaris yang telah mengabdikan hidupnya pada lembar-lembar berita sejak awal 1980-an. Saban pagi, ia berjalan, membawa kabar Maluku dalam bentuk yang paling kasat mata: koran cetak.

Namun kini, pekerjaannya itu berada di ujung tanduk. “Sudah tidak seperti dulu. Sekarang orang lebih pilih baca di HP,” tuturnya lirih, sambil menenteng sisa koran yang tak laku.

Senin yang basah (03/06/2025), awal Juni – bulan penghujan, Saya menawarkan kopi untuk saling bertukar cerita perihal “ini barang.” Tapi dengan tenang dia menolak. Bahkan nama lengkapnya saja enggan disebut. Katanya masih ada koran yang perlu dijual, “nanti saja sudaraku, masi banyak ini.” Padahal waktu sudah menunjUkan pukul 17.35 WIT.

Di tengah transisi digital yang massif, kisah Om Olop bukan sekadar tentang ancaman profesi. Ini adalah cermin dari pergulatan sosial-ekonomi Maluku yang lebih dalam.

Media Digital dan Disrupsi Ekonomi Kecil

Dalam teori creative destruction dari Joseph Schumpeter (1942), inovasi selalu membawa kehancuran pada bentuk-bentuk lama. Internet dan media digital telah menciptakan gelombang disrupsi, tidak hanya pada industri besar, tetapi juga pada ekonomi kecil seperti loper koran.

Baca Juga :  Lusiala Camp Festival , Event yang mendukung Pariwisata dan UMKM

Di kota besar, profesi ini mungkin sudah punah. Tapi di Maluku, ia masih bertahan—meski hanya tinggal beberapa orang seperti Om Olop.

Maluku sendiri bukan kawasan yang menikmati konektivitas digital seperti Pulau Jawa. Berdasarkan data BPS, tingkat akses internet rumah tangga di Maluku masih di bawah 50% pada 2023. Artinya, secara teoretis, koran cetak masih punya ruang.

Namun yang terjadi sebaliknya: turunnya daya beli, perubahan gaya hidup, dan minimnya regenerasi pembaca cetak membuat bisnis koran makin tergerus, bahkan di daerah dengan penetrasi digital rendah.

Ekonomi Informal dan Pekerjaan yang Terpinggirkan

Om Olop adalah bagian dari ekonomi informal, sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar tetapi minim jaminan sosial. Bank Dunia (2021) menyebutkan bahwa di Indonesia, lebih dari 58% tenaga kerja berada di sektor informal. Di Maluku, angka ini bahkan bisa lebih tinggi, mengingat dominasi sektor perdagangan kecil, jasa mandiri, dan minimnya industrialisasi.

Namun sayangnya, transformasi digital tidak memberikan ruang adaptasi yang memadai bagi pekerja informal. Tidak ada pelatihan, tidak ada insentif teknologi, dan tidak ada regulasi perlindungan.

Loper seperti Om Olop tidak bisa begitu saja “berpindah” ke dunia digital. Ia bukan hanya menjual koran, tetapi membangun relasi sosial: menyapa pelanggan, mengenal selera bacaan, menjadi bagian dari denyut kota bertajuk Manise ini.

Koran Bukan Sekadar Kertas, tapi Simbol Literasi

Dalam pandangan sosiolog Jurgen Habermas, ruang publik yang sehat dibentuk oleh diskusi rasional berbasis informasi yang kredibel. Koran cetak, dalam konteks ini, adalah simbol literasi dan ruang dialog masyarakat.

Baca Juga :  Wali Kota Ambon Jawab Desakan Publik, Penertiban Bukan Soal Kekerasan Tapi Keadilan Sosial

Di Maluku, di mana tingkat literasi fungsional masih menjadi tantangan (UNESCO, 2022), keberadaan koran dan loper seperti Om Olop bukan sekadar alat penyebar berita, tapi penjaga tradisi membaca.

Maka ancaman terhadap profesi loper bukan hanya soal pekerjaan yang hilang, tapi juga hilangnya medium sosial yang memberi akses pada warga untuk terhubung dengan dunia luar secara sadar dan aktif.

Saya sendiri selaku praktisi Media mainstream di paltfrom digital sekaligus aktif di gerakan gerakan literasi ke-Maluku-an menaruh perhatian serius terhadap Om Olop yang masih berusaha tegas, tegar dalam gempuran ini.

Say menyadari Transisi digital adalah keniscayaan. Tapi keadilan dalam transisi itu perlu diperjuangkan. Pemerintah daerah bisa mulai dari hal sederhana: menyertakan para loper koran dalam skema literasi digital atau program UMKM. Media lokal pun sebaiknya tidak melepas tanggung jawab: jika mereka beralih ke model digital, libatkan mantan loper sebagai duta distribusi digital, mitra langganan komunitas, atau bahkan tenaga pemasaran.

Maluku tidak kekurangan ide, yang kurang adalah political will dan keberpihakan pada yang kecil dan senyap.

Perlawanan Sunyi dari Pinggir Jalan

Om Olop bukan sekadar penjaja berita. Ia adalah simbol perlawanan sunyi terhadap ketidakadilan struktural yang menempatkan kemajuan teknologi hanya di tangan mereka yang kuat.

Di tengah gempuran media elektronik dan lesunya ekonomi lokal, ia tetap berjalan. Setiap koran yang ia serahkan bukan hanya kabar, tapi bukti bahwa masih ada orang yang percaya bahwa pekerjaan sederhana bisa bermakna besar.

Dalam dunia yang semakin cepat dan impersonal, mungkin kita semua perlu belajar dari Om Olop, bahwa bertahan dengan martabat, bahkan di tengah keterancaman, adalah bentuk perjuangan paling manusiawi.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT
Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah
BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM
Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla
Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses
ICMI Maluku Gelar Maluku Business Forum 2026, Jusuf Kalla Tiba di Ambon Disambut Pangdam Pattimura dan Wagub
Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN
PAMA Dukung 17 Program Prioritas Pemkot Ambon, Sangadji: Pemuda Harus Jadi Motor Pembangunan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 08:21 WIT

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 November 2026 - 05:23 WIT

Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah

Senin, 2 November 2026 - 04:00 WIT

BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM

Senin, 2 November 2026 - 02:20 WIT

Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla

Minggu, 1 November 2026 - 14:29 WIT

Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT