Piru, Maluku – Kebijakan Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Ir. Asri Arman, dalam merombak dan mengganti sejumlah kepala sekolah mendapat dukungan luas dari masyarakat. Langkah ini dinilai sebagai keputusan strategis dan tepat sasaran untuk membenahi kualitas pendidikan di daerah tersebut.
Apresiasi itu disampaikan oleh tokoh masyarakat SBB, Kisman Tamalene, dalam wawancara via telepon pada Kamis (26/6/2025).
Ia menilai bahwa kebijakan Bupati merupakan bentuk respons terhadap kondisi di sejumlah sekolah yang mengalami masalah serius dalam kepemimpinan.
“Ada kepala sekolah yang hampir tidak pernah berada di tempat. Hanya muncul saat pembagian dana BOS atau rapor, setelah itu hilang berbulan-bulan. Ini jelas menciptakan suasana yang tidak sehat bagi guru-guru, terutama guru honorer,” ungkap Tamalene.
Ia juga menyoroti persoalan krusial lain, seperti ketiadaan operator sekolah yang berdampak langsung pada keterlambatan pengolahan data Dapodik dan pencairan dana BOS.
Bahkan, lanjutnya, ada guru honorer yang lebih dari satu tahun tidak menerima gaji karena kelambanan dalam manajemen keuangan sekolah.
Menurut Tamalene, perombakan ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan hasil dari evaluasi menyeluruh yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
“Bupati sudah mengambil keputusan berdasarkan kajian matang. Semua prosedur administrasi sudah dilalui dengan baik, baik untuk kepala sekolah yang diangkat secara definitif maupun pelaksana tugas (Plt),” katanya.
Ia menegaskan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, kualitas pendidikan di SBB akan terus merosot. Kepala sekolah yang tidak disiplin menciptakan preseden buruk dan merusak kultur organisasi pendidikan di tingkat sekolah.
“Oleh karena itu, saya mengajak semua pihak untuk mendukung keputusan Bupati. Ini bukan soal politik atau kepentingan pribadi, tapi tentang bagaimana kita menyelamatkan masa depan pendidikan di daerah ini,” ujar Tamalene.
Sebagai penutup, Tamalene mengingatkan para kepala sekolah yang baru diangkat agar mampu menjaga amanah dan membangun etos kerja baru di sekolah masing-masing.
“Jagalah kepercayaan ini. Tunjukkan keteladanan, jangan ulangi pola kepemimpinan lama yang malas dan abai. Pendidikan ini soal tanggung jawab moral, bukan sekadar jabatan administratif,” tutupnya.***





































































Discussion about this post