SAUMLAKI, Maluku – Gelombang tinggi dan cuaca buruk menjadi biang keladi terhentinya arus distribusi semen ke Kepulauan Tanimbar.
Akibatnya, warga Saumlaki kini merasakan dampaknya, semen langka, harga meroket hingga Rp. 90.000 per sak ukuran 50 kilogram, dan sejumlah proyek pembangunan pun tersendat.
Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi laut yang tidak bersahabat membuat kapal-kapal barang tertahan di pelabuhan asal. Rantai pasok pun terputus. Sejumlah toko bangunan di Kota Saumlaki melaporkan stok kosong, memicu kepanikan warga yang tengah membangun atau merenovasi rumah.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku frustrasi. Toko langganannya yang biasanya selalu tersedia semen, kini hanya memajang rak kosong.
“Sudah keliling, tapi kosong. Kalau pun ada, harganya sudah mahal sekali,” keluhnya.
Keluhan serupa juga datang dari para pemilik toko. Di Kompleks Pasar Omele, pemilik Toko Samy mengaku hanya bisa pasrah menunggu kapal datang.
“Saya tidak tahu ini kenapa begini. Saya terima semen dari toko Aneka Tekhnik dan Sumber Tekhnik saja. Yang penting sesuai kami punya harga, kami angkat dari sana berapa, kami sesuai jual berapa,” ujarnya.
Artinya, mereka hanya mengikuti harga dari pemasok yang juga terdampak tingginya biaya distribusi akibat cuaca ekstrem.
Pemilik Toko Aneka Tekhnik, Lukas Thio, mengonfirmasi bahwa faktor cuaca dan laut menjadi penghambat utama.
“Ini sebenarnya masalah distribusi, terlambat karena kapal-kapal tidak bisa jalan. Memang di sini kelihatan semua baik, tapi di laut tergantung cuaca,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini terjadi antrean panjang muatan kapal yang menunggu cuaca membaik. Pasokan semen tertahan di pelabuhan asal.
Namun, ada kabar baik, awal bulan depan, stok diperkirakan akan kembali normal jika kondisi laut mulai bersahabat.
“Awal bulan sudah banjir semen. Sekarang semua lagi antre muat,” ujarnya optimistis.
Terkait lonjakan harga, Lukas memilih tutup mulut. “Saya tidak bisa bilang apa-apa. Semua masuk dengan biaya-biaya tersendiri. Sensitif sekali,” katanya, merujuk pada biaya kirim yang membengkak akibat situasi laut.
Menanggapi situasi yang dipicu cuaca buruk ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Cornelis Batmomolin, akhirnya merespons.
“Nanti ada staf yang turun, tidak bisa kami menyampaikan sebelum kami di lapangan,” ujarnya singkat.
Pemerintah akan segera melakukan pengecekan langsung untuk memastikan distribusi dan mengantisipasi gejolak harga yang terjadi.
Warga Saumlaki kini hanya bisa berdoa semoga cuaca laut segera bersahabat, kapal cepat merapat, dan harga semen kembali normal.








































































Discussion about this post