Ambon, Maluku – Gubernur Maluku menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan bertema Moderasi Beragama yang digagas oleh DPW GEMA Mathla’ul Anwar Maluku dan DPD GEMA Mathla’ul Anwar Kota Ambon. Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dan strategis dalam memperkuat kehidupan orang basudara di Maluku.
Dalam sambutannya Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan, moderasi beragama merupakan fondasi penting dalam menjaga perdamaian, kemajemukan, dan keharmonisan sosial di daerah yang memiliki latar belakang keberagaman yang kuat seperti Maluku.
“Saya mengapresiasi panitia dan pengurus GEMA Mathla’ul Anwar Maluku serta Kota Ambon, karena memilih tema yang sangat relevan dan bermanfaat bagi Maluku. Kita punya tanggung jawab untuk terus mendorong kegiatan-kegiatan yang mempromosikan kehidupan orang bersaudara, perdamaian, kemajemukan, dan kemoderasian,” ujar Gubernur.
Ia juga menegaskan moderasi beragama tidak boleh disalahartikan sebagai upaya memoderasi ajaran agama, melainkan bagaimana membangun relasi yang sehat antar umat beragama dalam kehidupan sosial.
“Sebagai Gubernur, saya bangga terhadap inisiatif dan komitmen teman-teman GEMA Mathla’ul Anwar dalam memperkuat kesadaran moderasi beragama di Maluku,” tambahnya.
Libatkan Generasi Muda
Bansa Hadi Sella, Ketua Wilayah GEMA Mathla’ul Anwar Maluku menyampaikan, dialog publik ini bukanlah akhir dari upaya membangun kesadaran tentang makna moderasi beragama, melainkan langkah awal dari gerakan berkelanjutan.
Menurutnya, dalam waktu ke depan akan digelar berbagai kegiatan yang melibatkan generasi muda lintas iman, termasuk organisasi kepemudaan dari kalangan Kristen, Islam, Hindu, Buddha, serta unsur LSM dan komunitas lainnya.
“Persoalan keyakinan itu bersifat pribadi (nafsi-nafsi), namun bagaimana kita saling menghargai sesama orang beragama menjadi sangat penting agar tidak terjadi turbulensi sosial di kemudian hari,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan ruang digital secara bijak. Di era Artificial Intelligence (AI), arus informasi yang cepat menuntut masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih kritis dan mampu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.
Semangat pela gandong sebagai kearifan lokal Maluku ditegaskan sebagai nilai utama yang harus terus dirawat dalam menjaga hubungan antarumat beragama.
Strategi Pencegahan Konflik
Sementara itu, Akademisi Asrul Pattimahu menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mengelola keberagaman. Ia menjelaskan bahwa masyarakat yang jarang berinteraksi cenderung mudah terjebak dalam prasangka, yang berpotensi memicu konflik.
Menurutnya, pemerintah perlu menciptakan sebanyak mungkin ruang-ruang perjumpaan lintas latar belakang, seperti ruang baca terbuka atau perpustakaan komunitas, yang memungkinkan interaksi sosial berlangsung secara positif.
“Orang yang jarang berjumpa akan saling curiga. Sebaliknya, semakin banyak ruang pertemuan yang diciptakan, semakin kecil potensi konflik yang muncul,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi, memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menjaga keberagaman melalui dialog dan interaksi sosial yang konstruktif.
Jalan Tengah Keharmonisan
Pandangan senada disampaikan oleh Rovik Akbar Avifudin yang menekankan bahwa moderasi beragama merupakan jalan tengah untuk menjaga harmonisasi dalam kehidupan sosial.
“Moderasi beragama bukan memoderasi agama, tetapi memoderasi cara pandang dan perilaku kita dalam relasi sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai kasih sayang, persaudaraan, dan tolong-menolong yang diajarkan dalam agama harus menjadi modal utama dalam membangun keharmonisan antarumat beragama di Maluku.
Dengan semangat kebersamaan dan pembukaan ruang-ruang perjumpaan, moderasi beragama diharapkan menjadi landasan kuat dalam membangun masa depan Maluku yang damai, harmonis, dan berkelanjutan. (**)








































































Discussion about this post