Ambon, Maluku – Ketua Wilayah GEMA Mathla’ul Anwar Maluku, Bansa Hadi Sella, menegaskan bahwa dialog publik yang diselenggarakan merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam mengampanyekan moderasi beragama sebagai fondasi harmoni antarumat beragama di Maluku.
Sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar ketiga di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, GEMA Mathla’ul Anwar Maluku memandang penting untuk terus menghadirkan ruang-ruang dialog yang konstruktif, khususnya di tengah dinamika sosial yang berkembang.
Hadi Sella menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, beredar berbagai isu sensitif dan provokatif di media sosial, termasuk di grup-grup WhatsApp, yang berkaitan dengan SARA. Salah satu contoh yang mencuat adalah beredarnya flyer yang menarasikan tuduhan bahwa Gubernur bersikap anti-Islam.
“Isu-isu seperti ini jika tidak segera diatasi dapat menjadi bibit konflik di kemudian hari. Kita tahu Maluku dalam sejarah panjangnya pernah berada dalam fase dinamika konflik internal. Karena itu, langkah preventif melalui edukasi dan dialog menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan dialog publik ini menghadirkan berbagai narasumber strategis, mulai dari Gubernur Maluku, unsur DPRD, akademisi, hingga tokoh agama, guna memperkuat perspektif bersama tentang pentingnya menjaga harmoni sosial.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan ini juga dipicu oleh adanya dinamika di salah satu daerah yang mengarah pada isu-isu SARA. Karena itu, GEMA Mathla’ul Anwar Maluku mengambil inisiatif untuk mengedukasi generasi muda lintas agama agar mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga persaudaraan.
“Harapannya, dengan keterlibatan anak muda lintas agama, mereka bisa menjadi lokomotif dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian kepada masyarakat, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah keharmonisan orang basudara di Maluku,” tegasnya.
Melalui dialog dan penguatan literasi sosial, GEMA Mathla’ul Anwar Maluku berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya ruang-ruang perjumpaan yang inklusif, demi menjaga Maluku tetap damai, harmonis, dan berlandaskan nilai kearifan lokal serta semangat persaudaraan. (**)





































































Discussion about this post