Ambon, Maluku– Isu miring yang diarahkan kepada Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, tentang kedekatannya dengan organisasi kepemudaan muslim, patut disikapi dengan jernih. Narasi yang menyebut adanya kepentingan sempit di balik relasi tersebut jelas tidak berdasar.
Justru fakta menunjukkan, kepemimpinan yang terbuka terhadap semua organisasi adalah modal penting dalam membangun Kota Ambon yang majemuk.
Salah satu contoh konkret keterbukaan itu tercermin pada penganugerahan Wattimena sebagai warga kehormatan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Ambon pada September 2023 silam. Penganugerahan itu langsung disaksikan senior sekaligus tokoh nasional Anas Urbaningrum dan sejumlah tokoh HMI Maluku di Grand Avira kota Ambon.
Momen itu jadi sejarah sekaligus refleksi betapa seorang pemimpin mampu menjalin sinergi dengan elemen masyarakat, tanpa sekat agama maupun identitas.
Penghargaan tersebut lahir dari pengakuan terhadap kontribusi nyata, bukan karena pertimbangan politik sesaat.
Mengaitkan momentum kebersamaan itu dengan tuduhan sempit hanya akan menyesatkan publik. Kepemimpinan yang inklusif selalu berupaya merangkul, bukan membatasi. Relasi dengan KAHMI, GMKI, maupun organisasi kepemudaan lainnya merupakan bagian dari strategi membangun jembatan komunikasi demi kemajuan kota.
Tudingan serta kecurigaan bermuara pada narasi provokatif terhadap Wattimena hanya berpotensi memecah belah. Bahkan, klarifikasi fakta akademis menunjukkan bahwa Wattimena adalah lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), bukan bagian dari organisasi mahasiswa tertentu sebagaimana diberitakan atau di-isu-kan sejumlah oknum di media.
Artinya, upaya memelintir fakta hanyalah manuver politik, atau sebatas iseng mencari cela panggung yang mengorbankan harmoni sosial.
Yang dibutuhkan Ambon hari ini adalah menjaga stabilitas, memperkuat sinergi, dan menumbuhkan kepercayaan. Refleksi atas momentum penghargaan di tahun 2023 mestinya memotivasi kita semua untuk meneguhkan komitmen kebersamaan.
Kota ini akan maju bila setiap elemen saling merangkul, bukan saling curiga. Sebagaimana kecurigaan oknum atas momentum Musda barisa Jas Merah Maron (Ikatan Mahasiswa Muhmamadiyah) yang baru kemarin dibuka.
Akibat dari kedekatan dan kesolehan Wattimena dalam merangkul hingga dengan mudah dipelintir. Sekali lagi menutup tajuk ini, semoga anak-anak muda sadar, bahwa Ambon butuh stabilitas dan kepercayaan. Kota ini akan maju bila setiap elemen saling merangkul, mendukung, dan berkolaborasi, bukan saling mencurigai.***





































































Discussion about this post