Piru, Maluku— Ledakan emosi di kawasan tambang rakyat Gunung Tembaga, Desa Luhu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), berujung kericuhan hebat. Sebanyak 65 unit sepeda motor dilaporkan hangus terbakar di titik Bambu Kuning, sementara sejumlah warga mengalami luka akibat aksi kekerasan yang dipicu perselisihan antarpekerja tambang.
Kapolres SBB, AKBP Andi Zulkifli, melalui Kasi Humas Polres Akp. Jhon R. Soplanit angkat bicara menanggapi insiden tersebut.
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar keributan biasa, melainkan kejadian serius yang berdampak luas terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Peristiwa ini sangat serius karena menimbulkan korban luka dan kerugian materil serta berpotensi memicu konflik antarwarga. Kami tidak akan mentolerir tindakan kekerasan maupun pembakaran. Semua akan diproses sesuai hukum secara profesional dan transparan,” tegas Kapolres dalam pernyataan resminya, yang disampaikan Soplanit Kamis (12/02/2026).
Kericuhan diduga bermula dari dugaan pencurian di salah satu kolam tambang milik warga. Perselisihan yang terjadi kemudian berujung penganiayaan terhadap La Ode Jamilu (43), penjaga kolam tambang tersebut.
Korban sempat dilarikan ke Puskesmas Negeri Iha dalam kondisi kritis pada Sabtu (7/2/2026) siang.
Selain La Ode Jamilu, saudara Julham Waliulu juga mengalami luka akibat penganiayaan pada kejadian awal. Bahkan, salah satu pelaku dalam rangkaian insiden tersebut turut menjadi korban dalam situasi yang berkembang di lokasi.
Di tengah memanasnya situasi, puluhan kendaraan roda dua yang berada di kawasan tambang rakyat itu menjadi sasaran pembakaran.
Sebanyak 65 unit sepeda motor dilaporkan ludes, menambah daftar kerugian materil yang cukup besar.
Kapolres mengungkapkan bahwa aktivitas pertambangan di kawasan Iha–Luhu melibatkan cukup banyak warga dari beberapa desa. Hingga kini, jumlah pasti penambang masih dalam proses pendataan bersama pemerintah desa dan instansi terkait.
“Memang diketahui cukup banyak warga yang beraktivitas di lokasi tersebut. Karena itu, perlu pengaturan dan pengawasan yang lebih ketat agar tidak terjadi gesekan yang berujung konflik,” ujar AKBP Andi Zulkifli.
Pasca-kejadian, Polres SBB langsung mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) dan menerima dua laporan polisi. Penyelidikan pun dilakukan untuk mengungkap secara menyeluruh siapa saja yang terlibat serta motif di balik kericuhan tersebut.
“Kami sudah mengamankan TKP, menerima dua laporan polisi, dan saat ini proses penyelidikan terus berjalan. Patroli serta pengamanan di lokasi juga kami tingkatkan untuk mencegah potensi konflik susulan,” katanya.
Selain langkah penegakan hukum, kepolisian juga mengedepankan pendekatan persuasif dengan melakukan mediasi dan koordinasi bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta TNI.
Pendataan penambang dan pemetaan potensi konflik dilakukan sebagai langkah antisipasi jangka panjang.
Kapolres mengingatkan masyarakat agar tidak terpancing isu yang belum jelas kebenarannya dan tetap mempercayakan penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum.
“Kami meminta masyarakat menahan diri dan tidak terprovokasi. Percayakan penanganannya kepada kepolisian. Mari bersama-sama menjaga kamtibmas agar situasi tetap aman dan kondusif,” pungkasnya.
Saat ini, situasi di kawasan Gunung Tembaga dilaporkan dalam pengamanan aparat, sementara proses hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab terus berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.***




































































Discussion about this post