ALTAR Ultimatum Kejari – Pemda: Bongkar Dugaan KKN UP3 atau Gelombang Membesar

- Jurnalis

Kamis, 12 Februari 2026 - 09:08 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Saumlaki, TrendingMaluku.com – Aliansi Tanimbar Raya (ALTAR) melayangkan ultimatum keras kepada dua pusat kekuasaan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, yakni Kejaksaan Negeri dan Pemerintah Daerah, dengan tuntutan tegas agar segera mengusut dugaan penyalahgunaan kewenangan serta praktik KKN dalam mekanisme pembayaran UP3. Ultimatum tersebut disampaikan paska aksi unjuk rasa yang digelar pada Selasa (10/02/2026) lalu.

Ketua Devisi Hukum ALTAR, Hernanto Permelay Permaha, menyatakan bahwa kemarin merupakan bentuk ultimatum publik terhadap aparat penegak hukum dan pemerintah daerah.

“Aksi demo kemarin bukan untuk seremonial. Kami menuntut Kejaksaan Negeri segera melakukan penyelidikan dan penyidikan atas dugaan penyalahgunaan kewenangan dan KKN dalam mekanisme pembayaran UP3. Ini menyangkut APBD dan uang rakyat,” tegas Hernanto kepada media ini, Kamis (12/02/2026).

ALTAR juga merujuk pada legal opinion Kejaksaan Tinggi Maluku tahun 2018 pada masa pemerintahan Petrus Fatlolon, yang menekankan kehati-hatian dan verifikasi dokumen. Dalam dokumen tersebut disebutkan dugaan vendor tidak memiliki kontrak kerja dan proses tidak melalui mekanisme lelang, padahal bersinggungan langsung dengan keuangan daerah.

Kejaksaan Tidak Beri Jawaban Langsung

Di Kantor Kejaksaan Negeri, perwakilan institusi melalui PLH menyatakan belum dapat memberikan tanggapan langsung dan meminta waktu untuk melakukan koordinasi secara berjenjang. Respons resmi, kata dia, akan disampaikan kemudian saat ditanya apakah legal opinion Kejaksaan Tinggi Maluku tahun 2018 bersifat mengikat bagi Pemda dalam mekanisme pembayaran UP3.

Baca Juga :  Pemda KKT Tidur, Pemuda Katolik Geram, Vikep KKT-MBD Turun Tangan

Bagi ALTAR, jawaban tersebut belum menjawab substansi persoalan. Pasalnya, dalam legal opinion itu ditegaskan pentingnya prinsip kehati-hatian, mengingat salah satu vendor pelaksana proyek diduga tidak mengantongi dokumen kontrak kerja serta tidak melalui proses lelang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengarah pada indikasi pidana, termasuk dugaan manipulasi atau penggunaan dokumen fiktif untuk meloloskan pembayaran UP3.

“Publik butuh jawaban langsung dari Pihak Kejaksaan soal legal opinion, bukan jawaban normatif. Karena di saat masa pemerintahan pa PF beliau mentaati legal opinion, namun dimasa Pejabat Bupati hingga Bupati Definitif mengabaikan Legal Opinion tersebut, sehingga hal itulah yang menimbulkan kontroversi publik Tanimbar saat ini,” ujar Hernanto.

Pemda Berlindung di Balik “Dokumen Rahasia”

Aksi kemudian bergeser ke Kantor Bupati. Pemerintah daerah diwakili Sekda dan Kabag Hukum, sementara Bupati dan Wakil Bupati tidak menemui massa saat itu.

ALTAR menuntut agar mekanisme pembayaran UP3 beserta seluruh dokumen pendukung dibuka secara transparan ke publik. Namun Sekda menyatakan sebagian pembayaran telah dieksekusi dan beberapa dokumen bersifat rahasia sehingga mengusulkan dialog tertutup, namun alih-alih usulan itu langsung ditolak massa.

“Tidak ada alasan kerahasiaan untuk penggunaan uang rakyat. Kalau menyangkut APBD, itu domain publik. Dialog tertutup hanya akan memperkuat kecurigaan,” tegas Hernanto.

Siap Tempuh Jalur Pidana & Upaya Hukum Luar Biasa

ALTAR menduga terdapat praktik KKN dalam transaksi UP3, termasuk eksekusi utang pihak ketiga tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan daerah dan dampaknya terhadap pelayanan publik.

ALTAR memastikan akan mengajukan laporan pidana resmi atas dugaan korupsi dan penyalahgunaan kewenangan terhadap pejabat sebelumnya maupun yang sedang menjabat.

“Kami akan kawal sampai tuntas. Kalau ditemukan novum baru, kami juga mendorong adanya upaya hukum luar biasa berupa Peninjauan Kembali (PK). Tidak boleh ada impunitas,” kata Hernanto.

Sementara itu, Sekda yang saat itu mewakili Pemda meminta waktu maksimal tujuh hari untuk menyiapkan dokumen dan membuka data utang pihak ketiga dalam forum dialog.

Hernanto menutup pernyataannya dengan peringatan keras.

“Kami beri waktu tujuh hari. Jika dalam tujuh hari tidak ada kejelasan, gelombang berikutnya akan lebih besar.” tegasnya mengutip pernyataannya saat aksi. (*)

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sudah Cukup Dijanjikan, Pemuda Lermatan siap Palang Lahan 662, Tuntut Kepastian Pembayaran
Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN
Plt Ketua DPW PPP Maluku Dukung Pemberhentian Waketum dan Sekjen DPP
KTC Gaungkan Aksi Nyata Peringatan Sumpah Pemuda Lewat Kusambi Tanempar Cup 2026
Momentum Sumpah Pemuda, Subhan Pattimahu Dorong Prabowo Bentuk Kementerian Peranan Pemuda
KNPI Maluku Ajak Publik Bijak Memilah Kewenangan Pemerintahan
Rektor UIN Ambon Prof Abidin Raih PIKI Awards 2026, Diakui atas Perjuangan Toleransi dan Perdamaian
Cermati Capaian Bang Ozan, Tuhepaly Soroti Perubahan Pendidikan dan Arah Baru Ekonomi Malteng

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 05:18 WIT

Sudah Cukup Dijanjikan, Pemuda Lermatan siap Palang Lahan 662, Tuntut Kepastian Pembayaran

Minggu, 1 November 2026 - 02:24 WIT

Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN

Jumat, 30 Oktober 2026 - 04:26 WIT

Plt Ketua DPW PPP Maluku Dukung Pemberhentian Waketum dan Sekjen DPP

Kamis, 29 Oktober 2026 - 00:15 WIT

KTC Gaungkan Aksi Nyata Peringatan Sumpah Pemuda Lewat Kusambi Tanempar Cup 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:30 WIT

Momentum Sumpah Pemuda, Subhan Pattimahu Dorong Prabowo Bentuk Kementerian Peranan Pemuda

Berita Terbaru