Ambon, Maluku – Euforia Piala Dunia 2026 tak hanya menggema di kota-kota besar dunia, tetapi juga terasa begitu kuat di Maluku. Dari warung kopi hingga ruang-ruang publik, masyarakat larut dalam semangat sepak bola, menyatukan berbagai kalangan dalam satu atmosfer penuh antusiasme.
Momentum itu semakin menarik karena dua pucuk pimpinan daerah di Maluku diketahui memiliki pilihan berbeda menjelang laga akbar semifinal Piala Dunia 2026.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, secara terbuka memberikan dukungan kepada Argentina, sementara Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, dikenal sebagai pendukung fanatik Tim Nasional Inggris.
Perbedaan pilihan tersebut justru menghadirkan warna tersendiri bagi masyarakat Maluku. Keduanya beberapa kali membuka ruang nonton bareng (nobar) bersama warga sebagai bentuk kedekatan dengan masyarakat sekaligus menjadikan sepak bola sebagai media mempererat tali persaudaraan.
Semangat yang dibangun bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan bagaimana Piala Dunia menjadi momentum memperkuat nilai-nilai orang basudara, mempererat kebersamaan, dan menghadirkan hiburan yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat.
Laga semifinal memang menyajikan duel klasik penuh gengsi. Inggris dan Argentina memastikan tiket ke empat besar setelah sama-sama meraih kemenangan dramatis melalui babak perpanjangan waktu pada perempat final, Minggu (12/7/2026) WIB.
Inggris menumbangkan Norwegia 2-1 berkat dua gol Jude Bellingham, sedangkan Argentina mengatasi perlawanan Swiss dengan skor 3-1.
Pertemuan di Atlanta Stadium, Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB, akan membuka babak baru rivalitas yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade. Ini menjadi pertemuan pertama kedua negara dalam hampir 21 tahun sekaligus duel keenam mereka di putaran final Piala Dunia.
Secara statistik, Inggris masih unggul dalam rekor pertemuan dengan enam kemenangan dari 13 laga yang selesai dimainkan.
Argentina mencatat dua kemenangan, sementara lima pertandingan lainnya berakhir imbang. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap duel kedua negara hampir selalu melahirkan kisah yang dikenang dunia.
Mulai dari kontroversi kartu merah Antonio Rattín pada Piala Dunia 1966, gol legendaris sekaligus kontroversial “Tangan Tuhan” Diego Maradona pada 1986, drama kartu merah David Beckham pada 1998, hingga penalti kemenangan Beckham empat tahun kemudian, seluruhnya menjadi bagian dari rivalitas paling emosional dalam sejarah sepak bola internasional.
Kini, generasi baru hadir membawa harapan masing-masing. Inggris mengandalkan ketajaman Jude Bellingham, sementara Argentina tetap bertumpu pada magis Lionel Messi yang kembali menjadi motor serangan Albiceleste.
Di Maluku, pertandingan tersebut dipastikan akan menjadi tontonan yang dinanti ribuan pencinta sepak bola. Meski terbagi dalam dua kubu pendukung, semangat yang dibangun tetap sama, yakni menjadikan sepak bola sebagai perekat persaudaraan.***






































































Discussion about this post