Ambon, Maluku – Jembatan lintas Wakal-Wailela, di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) hingga saat ini terus menelan korban jiwa. Bukan baru sekali, namun peristiwa kecelakaan sudah sering menimpah para pengendara yang melintas di kawasan tersebut.
Pada Minggu (24/8/2025) kemaren, jembatan kayu tersebut kembali menelan korban jiwa. Salah satu warga Desa Wakal atas nama Nursyahrani Fataruba (Nani) dilaporkan meninggal dunia, setelah mengalami lakalantas tunggal bersama temannya Muhamat Idham Budewa (Aldo).
Dalam kronologisnya, Idham bersama mendiang Nursyahrani melintas di kawasan itu untuk menuju Kampus Universitas Pattimura (Unpati) Ambon. Namun tiba di atas jembatan yang bangunannya masih menggunakan kayu itu, ban depan motor jenis metik yang digunakan kedua korban keluar jalur akibat licin, sehingga menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh ke bawah jembatan.
Peristiwa nahas ini lantas mengakibatkan Nursyahrani Fatarubah meninggal dunia, meski sebelumnya sudah berusaha dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kejadian ini tentu sangat menyayat hati kedua orang tua dan keluarga mendiang. Betapa tidak, Nursyahrani merupakan putri sulung dari pasangan suami istri Masyur Fataruba dan Fitria Ueng, yang baru saja mau menginjakkan kakinya di Perguruan Tinggi.
Olehnya itu, ayah Nani sapaan akrab almarhumah, Masyur Fataruba meminta Pemkab Malteng, untuk sekiranya memperhatikan jembatan tersebut agar tidak lagi menyebabkan korban jiwa lainnya. Menurut dia, ruas jalan tersebut merupakan akses transportasi yang dilintasi warga di Kecamatan Leihitu, sehingga penting untuk dibangun secara permanen dengan bangunan yang memadai dan bukan lagi jembatan kayu.
“Ini adalah tanggung jawab Pemkab Malteng dan harus mendapat perhatian atau penanganan serius. Cukup sudah peristiwa ini menimpah anak kami dan temannya Aldo, jangan lagi ada korban lain di Jazirah Leihitu,” ujarnya.
Mansyur berharap, Pemkab tidak lamban dalam menangani infrastruktur jalan dan jembatan yang ada di kawasan Leihitu, terutama di Desa Wakal. Artinya harus ada upaya pencegahan dini dengan membangun fasilitas umum tersebut. Karena jika pemerintah tetap berdiam diri dan bersikap apatis, maka bisa berdampak terhadap munculnya korban-korban lain.
“Ini adalah persoalan serius yang harus ditangani secara serius pula oleh Pemkab Malteng. Pelayanan publik, termasuk fasilitas umum seperti jalan dan jembatan harus benar-benar disikapi oleh stakeholder. Jangan sampai menunggu ada insiden baru mengambil langkah,” desaknya.
Maksud Masyur meminta Pemkab Malteng membijaki infratruktur tersebut karena Jazirah Leihitu merupakan wilayah administrasi yang ada dalam cakupan Kabupaten bertajuk Pamahanu Nusa itu. Dengan begitu Pemkab Malteng akan bisa berupaya untuk mendorong proses pembangunannya ke Balai Sungai dan Jembatan, serta Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Maluku.
“Memang ruas jalan di Jazirah Leihitu berstatus jalan provinsi dan berada dalam tanggung jawab Pemerintah Provinsi Maluku. Karena itu saya meminta Pemkab Malteng untuk mendesak Pemprov guna bisa membangun jalan di wilayah kami,” jelasnya.
Selain itu, dia juga meminta Anggota DPRD Maluku daerah pemilihan (Dapil) Malteng untuk bisa melihat masalah yang terjadi di Kecamatan Leihitu. Karena, lanjut Alumni IAIN Ambon ini, peristiwa kecelakaan di jembatan Wakal itu bukan baru sekali, tetapi sudah berkali-kali. Bukan juga karena menimpah anaknya, tapi sudah banyak pengendara yang mengalami insiden di jalan penghubung tersebut.
“Bukan saja Anggota DPRD, tapi saya kira semua unsur terkait seperti Pemkab Malteng, Balai Sungai dan Jembatan, Dinas PU Provinsi, termasuk Gubernur Maluku, Pak Hendrik Lewerissa agar bisa membijaki aspirasi yang disampaikan masyarakat,” pintanya.
Diakhir komentarnya, Masyur juga memohon kepada pengguna sosial media (sosmed) agar tidak lagi mengupload (posting) foto dari mendiang di berbagai platform media, seperti facebook, tik-tok Twitter, whatsapp dan lain-lain, karena tindakan itu hanya akan membawa trauma mendalam dan melukai hati keluarga korban, apalagi kedua orang tuanya.
“Beta juga meminta kepada seluruh pengguna sosial media agar jangan lagi posting foto almarhumah di berbagai media sosial. Karena itu sangat menyayat hati kami selaku orang tua,” pungkasnya seraya mengharapkan adanya kebijakan dari Pemerinta Daerah. (**)






































































Discussion about this post