Ambon, Maluku— Subhan Pattimahu, Ketua Tim Pemenangan Steven Risakotta calon Ketua DPD II Partai Golkar Kota Ambon, menyatakan proses penjaringan bakal calon dalam Musyawarah Daerah (Musda) telah rampung dan hanya menghasilkan satu kandidat dengan dukungan mayoritas, Selasa (28/04).
Menurut Pattimahu, jadwal Musda telah ditetapkan melalui rapat pleno DPD Partai Golkar tingkat Provinsi Maluku, mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
Panitia Musda Kota Ambon, melalui panitia pengarah dan berpedoman pada Juklak Nomor 02 Pasal 27 tentang tata cara pemilihan ketua atau ketua formatur, telah melaksanakan tahapan penjaringan berupa pengumuman dan pendaftaran bakal calon.
“Setelah tiga hari proses penjaringan, hanya satu bakal calon yang mendaftar dengan dukungan 80 persen dari total suara sah,” kata Pattimahu.
Ia merinci, dukungan tersebut berasal dari lima kecamatan, satu suara organisasi sayap—yakni AMPG dan KPPG—serta satu suara organisasi pendiri SOKSI dan MKGR, termasuk organisasi yang didirikan seperti Al Hidayah, Satkar Ulama, dan MDI.
Berdasarkan hasil tersebut, Pattimahu memastikan kandidat yang diusungnya telah memenuhi syarat pencalonan dan berpeluang besar terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Ambon periode 2025–2030.
Ia menambahkan, terdapat target yang ditetapkan DPD I Partai Golkar bagi kepengurusan tingkat kota, yakni mengembalikan kejayaan partai dengan merebut kembali kursi pimpinan DPRD Kota Ambon.
*“Target tersebut bukan sekedar merebut, tetapi mengembalikan kejayaan yang pernah ditorehkan,” ujarnya.*
*Menurut Pattimahu, target itu telah disanggupi oleh calon yang diusungnya dengan perhitungan elektoral yang matang, termasuk proyeksi perolehan sekitar 30 ribu suara pada Pemilu Legislatif DPR RI tahun 2029 mendatang.*
Lebih lanjut, ia menilai dinamika internal Partai Golkar saat ini menunjukkan pergeseran paradigma kepemimpinan.
Partai Golkar, kata Pattimahu, tengah memasuki era baru yang lebih modern dengan membuka ruang lebih besar bagi kalangan milenial dan Generasi Z.
“Ini adalah era bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Kader Golkar, khususnya di Ambon, menyadari pentingnya perubahan tersebut,” ujarnya.
Pattimahu juga menanggapi pandangan yang menyebut kepemimpinan partai sebaiknya dipegang oleh pejabat publik. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak lagi relevan secara elektoral.
Ia mencontohkan sejumlah periode ketika kepemimpinan partai di tingkat provinsi maupun kabupaten dipegang oleh kepala daerah aktif, namun tidak berbanding lurus dengan peningkatan perolehan kursi legislatif, baik di DPR RI maupun DPRD.
“Fakta itu menjadi cermin bahwa pendekatan kekuasaan tidak lagi dominan dan perlu digantikan dengan konsep yang lebih modern,” katanya.
Sebagai perbandingan, dirinya menyinggung terpilihnya Umar Lessy sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Maluku.
Ia menilai kemenangan tokoh muda berlatar aktivis dan pengusaha tersebut mencerminkan perubahan pola pikir kader beringin Maluku yang inklusif dan modern sesuai kebutuhan saat ini.
Di sisi lain, Pattimahu menyampaikan apresiasi terhadap sikap Wakil Wali Kota Ambon yang tidak mencalonkan diri dalam Musda kali ini.
Menurutnya, keputusan tersebut mencerminkan pemahaman terhadap pentingnya kemitraan dalam pemerintahan daerah.
“Keputusan itu menunjukkan sikap kenegarawanan dan komitmen menjaga keseimbangan kemitraan dengan wali kota,” ujarnya.***





































































Discussion about this post