Ambon, Maluku — Jadi momen yang tak biasa di jantung Kota Ambon. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi kawasan Pasar Mardika, menyambut kedatangan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Lautan manusia menyemut di sepanjang jalan, menyapa dengan senyum, sorak, dan lambaian tangan saat orang nomor dua di republik ini menapakkan kaki di pusat ekonomi terbesar Maluku itu, Senin Rabu (14/10).
Wapres Gibran tiba sekitar pukul 17.20 WIT, didampingi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dan disambut hangat oleh Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, bersama jajaran Forkopimda. Di tengah sorot mata ribuan warga, Gibran melangkah santai menyapa pedagang dan masyarakat yang sejak pagi menanti kehadirannya.
Namun kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Wapres datang untuk melihat langsung denyut kehidupan ekonomi rakyat di dua titik vital — Pasar Mardika dan Pasar Arumbai. Ia berdialog dengan pedagang kecil, meninjau kondisi lapak, serta mendengarkan keluhan mereka tentang harga, kebersihan, dan fasilitas pasar yang masih perlu perhatian.
“Beta tunggu dari pagi, baru kali ini bisa lihat langsung Wapres,” ujar Maria, seorang pedagang sayur dengan wajah sumringah. “Rasa senang sekali, apalagi beliau mau turun langsung lihat kita di pasar.”
Suasana penuh haru dan antusiasme terasa di setiap sudut pasar. Banyak warga rela berdesakan demi sekadar melihat dari dekat sosok pemimpin muda itu. Tak sedikit yang mengabadikan momen bersejarah tersebut dengan ponsel mereka, sementara aparat TNI, Polri, dan Satpol PP tampak sigap menjaga situasi tetap tertib dan aman.
Kunjungan Gibran ke Pasar Mardika hari itu menyiratkan pesan kuat: pembangunan dan perhatian pemerintah pusat tidak boleh berhenti di atas meja rapat, tetapi harus menyentuh langsung kehidupan masyarakat di akar ekonomi rakyat. Di balik hiruk pikuk pasar, Wapres seakan ingin menyapa denyut sejati bangsa — mereka yang setiap hari berjuang menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Bagi warga Ambon, hari itu bukan sekadar kunjungan kenegaraan. Ia menjadi simbol kehadiran negara di tengah rakyatnya — hangat, dekat, dan nyata.***







































































Discussion about this post