Jalan Huamual: Jangan Korbankan Infrastruktur Demi Ketahanan Pangan Nasional

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 12 Februari 2025 - 12:45 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

  • Jalan Lintas Huamual di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, telah puluhan tahun rusak parah, menghambat distribusi hasil pertanian dan perikanan. Pemerintah berjanji mengalokasikan Rp80 miliar dari DAK Fisik 2025 untuk perbaikannya, namun kebijakan pemotongan anggaran demi ketahanan pangan nasional mengancam realisasi proyek ini.
  • Padahal, infrastruktur jalan yang baik justru mendukung ketahanan pangan dengan mempercepat distribusi hasil bumi, meningkatkan pendapatan petani dan nelayan, serta membuka akses pasar lebih luas.

Oleh : Muhammad Fahrul Kaisuku | Direktur Rumah Inspirasi dan Literasi

Piru, Maluku– Selama puluhan tahun, masyarakat Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, harus berjuang melewati Jalan Lintas yang rusak parah. Harapan sempat muncul ketika pemerintah dibawah kepemimpinan Dr. Achmad Jais Ely berjanji mengalokasikan miliaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik tahun 2025 Pemerintah Pusat (Pempus) untuk perbaikan jalan tersebut.

Bukan saja Huamual, melainkan beberapa ruas jalan lainnya di kabupaten bertajuk Saka Mese Nusa seperti di kawasan Pengunungan Taniwel.

Namun, kebijakan pemerintah pusat yang memotong anggaran infrastruktur demi program ketahanan pangan nasional kini mengancam realisasi harapan masyarakat tersebut.

Keputusan ini memunculkan pertanyaan besar: Mengapa pembangunan jalan yang menjadi urat nadi ekonomi dan pangan masyarakat justru dikorbankan? Bukankah infrastruktur jalan yang baik juga merupakan bagian dari ketahanan pangan itu sendiri?

Jalan Rusak = Ancaman bagi Ketahanan Pangan

Pemerintah pusat saat ini tengah fokus pada peningkatan ketahanan pangan nasional dengan mengalihkan anggaran dari berbagai sektor, termasuk infrastruktur, untuk pengembangan pertanian, perikanan, dan subsidi pangan. Langkah ini tentu memiliki tujuan mulia, tetapi apakah kebijakan ini benar-benar tepat jika justru mengorbankan jalan penghubung utama bagi masyarakat penghasil pangan?

Baca Juga :  Polres SBB Sikat 900 Liter Sopi Ilegal, Kapolres: Ancaman Serius Kamtibmas

Huamual adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama rempah-rempah seperti cengkeh dan pala, serta hasil laut yang melimpah. Namun, potensi besar ini terhambat oleh buruknya infrastruktur jalan.

Para petani dan nelayan kesulitan mendistribusikan hasil panen ke pasar yang lebih besar karena biaya transportasi yang tinggi dan waktu tempuh yang sangat lama akibat kondisi jalan yang rusak.

Tanpa jalan yang layak, rantai distribusi pangan terganggu. Petani kehilangan peluang pasar, harga bahan pangan menjadi tidak stabil, dan suplai ke daerah lain pun terhambat. Jika ketahanan pangan nasional adalah prioritas, maka membangun infrastruktur jalan seperti di Huamual seharusnya menjadi bagian dari solusi, bukan malah dipinggirkan.

Ketahanan Pangan dan Infrastruktur Harus Sejalan

Ketahanan pangan tidak hanya soal produksi dan subsidi, tetapi juga memastikan hasil pangan dapat diakses oleh masyarakat luas. Infrastruktur jalan yang baik akan:

  1. Mempercepat distribusi hasil pertanian dan perikanan, mengurangi risiko pembusukan, dan menekan biaya logistik.
  2. Membantu petani dan nelayan meningkatkan pendapatan, sehingga mereka lebih berdaya dan dapat meningkatkan produksi.
  3. Membuka akses pasar yang lebih luas, baik ke dalam negeri maupun untuk ekspor, yang pada akhirnya meningkatkan ketahanan ekonomi dan pangan daerah.
  4. Mendorong investasi di sektor pertanian dan perikanan, karena infrastruktur yang baik akan menarik lebih banyak pelaku usaha dan industri pengolahan.
Baca Juga :  Tutup Festival Qasidah 2026, Bupati SBB Dorong Seni Religi Jadi Ruang Pembinaan Generasi

Jika pemerintah benar-benar ingin membangun ketahanan pangan yang kokoh, maka mereka harus melihatnya secara menyeluruh. Pemotongan anggaran DAK Fisik untuk perbaikan jalan di Huamual bukan hanya bentuk ketidakadilan bagi masyarakat setempat, tetapi juga keputusan yang kontraproduktif terhadap misi ketahanan pangan itu sendiri.

Saatnya Bertindak, Bukan Hanya Berjanji

Jalan Lintas Huamual sudah terlalu lama terabaikan. Jika pemotongan anggaran terus dilakukan, bukan hanya pembangunan yang tertunda, tetapi juga semakin jauhnya harapan masyarakat untuk bisa hidup lebih sejahtera.

Masyarakat Huamual tidak meminta sesuatu yang mewah, mereka hanya ingin hak dasar mereka dipenuhi: akses jalan yang layak untuk mendukung kehidupan dan mata pencaharian mereka.

Sudah saatnya pemerintah mendengar suara mereka—bahwa pembangunan infrastruktur dan ketahanan pangan bukanlah dua hal yang harus dikorbankan satu sama lain, melainkan dua pilar yang harus berjalan bersama.

Jika Huamual terus dikesampingkan, maka kita tidak hanya menghambat pertumbuhan daerah ini, tetapi juga melemahkan ketahanan pangan yang kita cita-citakan bersama. Infrastruktur adalah fondasi kemajuan—dan sudah saatnya Jalan Lintas Huamual menjadi prioritas, bukan korban kebijakan.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT
Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah
BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM
Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla
Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses
ICMI Maluku Gelar Maluku Business Forum 2026, Jusuf Kalla Tiba di Ambon Disambut Pangdam Pattimura dan Wagub
Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN
PAMA Dukung 17 Program Prioritas Pemkot Ambon, Sangadji: Pemuda Harus Jadi Motor Pembangunan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 08:21 WIT

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 November 2026 - 05:23 WIT

Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah

Senin, 2 November 2026 - 04:00 WIT

BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM

Senin, 2 November 2026 - 02:20 WIT

Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla

Minggu, 1 November 2026 - 14:29 WIT

Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT