Ambon, Maluku– Perhimpunan Mahasiswa Nusa Ina (Permanusa) mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Maluku untuk segera mengusut dan menindak tegas dugaan penyelundupan bahan kimia berbahaya berupa sianida ke wilayah tambang ilegal Gunung Botak, Kabupaten Buru.
Desakan ini muncul setelah mencuatnya nama Pitoyo Suwanto, yang diduga sebagai pemasok utama zat beracun tersebut.
Koordinator Permanusa, M. Rum Bugis, menyebut Pitoyo sebagai salah satu aktor kunci dalam sindikat pemasok Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) jenis sianida.
Sindikat ini diduga menjalankan operasinya dengan modus pengiriman menggunakan kontainer dari Surabaya ke Pulau Buru. “Pitoyo adalah sosok yang selama ini kebal hukum, meski namanya sudah beberapa kali disebut dalam kasus serupa,” tegas Rum Bugis dalam keterangan persnya, Selasa (25/6).
Berdasarkan hasil investigasi Permanusa, diperkirakan sebanyak 350 kaleng sianida akan diselundupkan melalui Pelabuhan Ambon dan Namlea, lalu digunakan untuk aktivitas pengolahan emas secara ilegal di kawasan Gunung Botak.
Bahan kimia beracun ini biasa digunakan dalam metode perendaman dan sistem tong, yang sangat berisiko bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Permanusa juga menyinggung kasus serupa yang terjadi pada tahun 2023, ketika kontainer bermerek KEMAS LINE berisi sianida ditemukan di kawasan Gunung Tatanggo, Namlea.
Kala itu, Pitoyo juga diduga menjadi aktor utama, namun kasus tersebut hingga kini tidak pernah diproses secara hukum dan tenggelam tanpa kejelasan.
“Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tapi kejahatan terhadap lingkungan hidup dan masa depan masyarakat Pulau Buru,” tegas Tomagola, salah satu aktivis Permanusa lainnya.
Atas dasar itu, Permanusa mendesak Polda Maluku untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh, membongkar jaringan distribusi sianida ilegal, serta mengambil langkah preventif untuk mencegah masuknya bahan kimia berbahaya ke kawasan pertambangan liar.
“Penegakan hukum yang tegas dan transparan sangat penting, tidak hanya untuk menegakkan keadilan, tetapi juga untuk menyelamatkan ekosistem Pulau Buru dari kerusakan permanen akibat penggunaan sianida,” tutup Rum Bugis.***






































































Discussion about this post