Ambon, Maluku — Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon mengimplementasikan Asta Program Prioritas (ASTA PROTAS) Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Seminar Bahasa, Literasi, dan Moderasi Beragama yang digelar di Auditorium IAKN Ambon, Selasa (6/5).
Mengusung tema “Membaca Teks, Memahami Konteks: Literasi Bahasa sebagai Jembatan Moderasi Beragama”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi.
Rektor IAKN Ambon, Prof. Dr. Yance Z. Rumahuru, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam praktik akademik yang konkret.
Menurutnya, literasi bahasa menjadi instrumen penting untuk membangun pola pikir mahasiswa yang kritis, terbuka, dan kontekstual terhadap realitas sosial.
“Seminar ini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi bagian dari implementasi nyata ASTA PROTAS Kemenag.”
“Mahasiswa harus mampu membaca teks keagamaan secara mendalam dan memahami konteksnya agar tidak terjebak pada pemahaman sempit yang berpotensi memicu konflik,” ujarnya.
Ia menambahkan, di tengah derasnya arus informasi digital dan dominasi generasi Z, kemampuan literasi tidak lagi terbatas pada membaca, tetapi juga mencakup kemampuan menafsirkan dan menyampaikan gagasan secara bijak di ruang publik.
Ketua panitia, Febby Pelupessy, M.Hum., menjelaskan seminar tersebut dirancang untuk memperkuat daya tangkal mahasiswa terhadap paham radikalisme dan kekerasan berbasis agama yang kerap muncul akibat kesalahan memahami teks.
“Literasi bahasa yang baik akan melahirkan sikap kritis, tidak mudah terprovokasi, serta mampu membangun toleransi. Ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang dicanangkan Kementerian Agama,” katanya.
Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni Koordinator Program Inklusi Rumah Generasi R. Jemmy Talakua, dan dosen UIN A.M. Sangadji Ambon Dr. A. Manaf Tubaka.
Dalam pemaparannya, Manaf Tubaka menekankan bahwa bahasa memiliki peran konstruktif sekaligus destruktif dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, penggunaan bahasa yang tepat dapat menjadi sarana edukasi, namun juga berpotensi memicu konflik apabila digunakan secara provokatif.
“Dalam konteks ASTA PROTAS, literasi bahasa harus diarahkan pada pembangunan kesadaran kolektif yang inklusif. Pemilihan diksi yang tepat sangat menentukan kualitas relasi sosial,” ungkapnya.
Sementara itu, Jemmy Talakua menilai bahasa merupakan medium produksi makna dan ideologi yang memengaruhi cara pandang seseorang terhadap keberagaman.
“Moderasi beragama tidak bisa dilepaskan dari literasi kritis. Bahasa membentuk cara kita memahami dunia, termasuk dalam merespons perbedaan,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan pendekatan dialogis yang melibatkan mahasiswa dalam diskusi. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu literasi dan moderasi beragama menjadi kebutuhan penting di tengah tantangan sosial dan derasnya arus informasi digital.***







































































Discussion about this post