Ambon, Maluku — Gerakan Islam modernis Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam membentuk wajah keberagamaan di Indonesia. Namun di balik kuatnya narasi Jawa sebagai pusat dinamika gerakan ini, buku berjudul “1928 Maluku Muhammadiyah: Sejarah Dinamika dan Pergerakan Muhammadiyah di Maluku” karya Ismail Borut, S.Pd.I., M.Pd., menghadirkan perspektif baru yang segar dan mendalam.
Melalui pendekatan historis dan sosiologis, Ismail Borut mengajak pembaca menelusuri jejak awal kehadiran Muhammadiyah di Ambon dan Maluku. Buku ini membuka ruang pemahaman baru bahwa sejarah Muhammadiyah di kawasan timur Indonesia bukan sekadar perluasan organisasi, tetapi juga bagian dari pergulatan identitas dan modernitas umat Islam di wilayah yang plural dan dinamis.
Berpijak pada catatan Richard Chauvel (1990), Borut menelusuri pembentukan Cabang Muhammadiyah Ambon pada tahun 1933, di tengah arus “reslamization” atau purifikasi ajaran Islam. Ia menyoroti bagaimana perjumpaan antara nilai-nilai Islam modernis dan budaya lokal menciptakan corak keberagamaan yang khas di Maluku — penuh dialog, adaptasi, dan ketegangan ideologis antara modernitas dan tradisi.
Dalam buku ini, Borut juga menggambarkan bagaimana Muhammadiyah hadir bukan hanya sebagai gerakan keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang tumbuh dari lapisan kelas Muslim urban di Ambon.
Kehadiran etnis Arab, Tionghoa, dan masyarakat lokal Ambon menjadi bagian penting dalam proses terbentuknya ekosistem sosial keagamaan yang inklusif.
Melalui narasi yang mengalir dan argumentasi akademik yang kuat, “1928 Maluku Muhammadiyah” berhasil menyajikan potret kemajemukan Islam Maluku — sebuah Islam yang terus berdialektika antara nilai purifikasi dan realitas budaya setempat.
Buku ini tidak hanya memperkaya khazanah literatur sejarah Islam lokal, tetapi juga menghadirkan refleksi penting bagi Muhammadiyah masa kini: bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan akar budaya, melainkan menemukan bentuk baru yang lebih kontekstual.
Dalam konteks keindonesiaan yang majemuk, karya ini menjadi jembatan intelektual untuk memahami bagaimana Islam modernis dapat beradaptasi tanpa kehilangan esensi keislamannya. Sebuah bacaan penting bagi akademisi, aktivis, maupun masyarakat luas yang ingin memahami perjalanan Islam progresif di tanah Maluku.
Tentang Penulis
Ismail Borut, lahir di Banda Ely, Kabupaten Maluku Tenggara, merupakan akademisi muda dan aktivis Muhammadiyah yang menaruh perhatian besar pada sejarah Islam lokal dan pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan di berbagai lembaga Muhammadiyah di Maluku dan kini aktif sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Maluku, sekaligus menjabat sebagai Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) periode 2025–2029.
Melalui buku “1928 Maluku Muhammadiyah”, Borut menghadirkan kontribusi berharga bagi literatur keislaman di kawasan timur Indonesia — sebuah karya yang menggabungkan riset ilmiah dengan semangat pengabdian, menghadirkan narasi historis yang berakar dari tanah Maluku namun berdampak pada wacana keislaman nasional.***






































































Discussion about this post