Piru, Maluku– Menjelang datangnya hari raya Idul Fitri, keresahan sebagian warga di wilayah Kecamatan Huamual kembali mencuat.
Kekhawatiran itu muncul seiring beredarnya isu-isu konflik yang dinilai mengingatkan warga pada tragedi bentrok antar kampung yang pernah terjadi lebih dari satu dekade silam.
Pantauan media di media sosial Facebook pada akun bernama Ummu Zahra, memperlihatkan sebuah curahan hati yang menyentuh dan menyita perhatian banyak warganet.
Dalam status pribadinya, Ummu Zahra mengungkapkan kegelisahannya terkait isu konflik yang kembali beredar menjelang Lebaran.
Dalam unggahannya, ia menceritakan trauma mendalam akibat tragedi konflik yang terjadi sekitar 12 tahun lalu.
Peristiwa itu meninggalkan luka yang hingga kini masih ia rasakan, karena sang suami menjadi korban sehingga anaknya harus tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah sejak masih dalam kandungan.
Ummu Zahra menegaskan bahwa tulisannya bukan untuk memicu perdebatan ataupun memperkeruh suasana.
Ia menyampaikan pesan tersebut semata sebagai pengingat bagi semua pihak—baik yang dianggap kawan maupun lawan—agar tidak lagi membiarkan ego sekelompok orang menyeret masyarakat luas ke dalam penderitaan yang sama.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap konflik selalu meninggalkan korban yang bukan hanya mereka yang terlibat langsung, tetapi juga keluarga yang ditinggalkan.
Menurutnya, sering kali satu orang menjadi korban atas nama negeri atau kampung, namun setelah itu keluarga yang ditinggalkan harus menghadapi kenyataan pahit tanpa banyak perhatian.
Dalam curahan hatinya, Ummu Zahra menuturkan bagaimana beratnya kehidupan seorang anak yang tumbuh tanpa ayah sejak lahir.
Ia menggambarkan perjuangan seorang ibu yang harus merantau jauh demi mencari nafkah agar anaknya tetap bisa hidup layak. Karena itu, ia berharap tragedi serupa tidak lagi dialami oleh anak-anak lain di masa depan.
Lebih jauh, ia menyindir bahwa ketika konflik terjadi, banyak pihak hanya memberikan simpati sesaat.
Namun setelah itu, keluarga korban sering kali dibiarkan menghadapi kesulitan sendiri. Hal tersebut menurutnya menjadi alasan kuat mengapa masyarakat harus menghentikan siklus konflik yang merugikan semua pihak.
Sebagai penutup, Ummu Zahra mengajak masyarakat untuk menahan diri dan menjaga kedamaian antar kampung.
Ia bahkan menyampaikan secara satir bahwa jika ada yang ingin “adu otot”, sebaiknya dilakukan di tempat lain, bukan dengan sesama saudara di negeri sendiri.
Hingga satu hari setelah diunggah, status tersebut telah dibagikan lebih dari seratus kali dan mendapat ratusan respons berupa tanda suka serta emoji empati dari warganet.
Banyak pengguna media sosial turut menyampaikan dukungan dan harapan agar masyarakat tetap menjaga kerukunan.
Menariknya, unggahan itu juga disertai tagar ajakan damai seperti #stopkonfliktetangga dan #hiduprukunlebebae, yang menggambarkan harapan agar masyarakat di Kecamatan Huamual dapat menyambut Idul Fitri dengan suasana aman, rukun, dan penuh persaudaraan.***
Berikut postingan aslinya dapat dibaca disini :

https://www.facebook.com/share/p/1AqbiqwYoS/https://www.facebook.com/share/p/1AqbiqwYoS/







































































Discussion about this post