Saparua, Maluku — Pelantikan Raja Negeri Siri Sori Islam, Syarifudin Pattisahusiwa, Sabtu (23/5/2026), berubah menjadi panggung besar konsolidasi persaudaraan masyarakat Maluku. Dalam momentum yang sarat nilai adat dan spiritual tersebut, Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, tampil menegaskan pesan kuat tentang pentingnya politik persaudaraan sebagai fondasi menjaga stabilitas sosial dan masa depan daerah.
Di tengah khidmat prosesi adat yang dihadiri jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Maluku, unsur pemerintah kabupaten/kota, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta masyarakat negeri, Bupati Maluku Tengah menegaskan bahwa negeri adat bukan sekadar simbol budaya, tetapi benteng utama menjaga harmoni, identitas, dan kekuatan sosial masyarakat Maluku.
Dalam pidatonya yang penuh pesan persatuan, Zulkarnain Awat Amir menyerukan pentingnya menjaga kebersamaan lintas negeri, memperkuat solidaritas sosial, dan mempertahankan nilai adat sebagai kekuatan moral dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah.
“Negeri adat adalah kekuatan peradaban Maluku. Dari negeri-negeri inilah nilai persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap budaya terus hidup dan menjadi fondasi pembangunan,” tegas Bupati di hadapan masyarakat yang memadati lokasi pelantikan.
Pidato tersebut mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai, pesan yang disampaikan Bupati tidak sekadar formalitas pemerintahan, melainkan refleksi kepemimpinan yang memahami karakter sosial masyarakat Maluku yang bertumpu pada nilai pela gandong, persaudaraan, dan penghormatan terhadap adat.
Momentum pelantikan Raja Siri Sori Islam pun dinilai memiliki makna strategis. Selain memperkuat legitimasi pemerintahan negeri, agenda tersebut menjadi simbol kokohnya eksistensi adat di tengah dinamika pemerintahan modern dan perubahan sosial masyarakat.
Apresiasi terhadap sikap dan pidato Bupati Maluku Tengah disampaikan langsung oleh Darul Kutni Tuhepaly, anak Negeri Siri Sori Islam sekaligus pemerhati kebijakan publik dan politik Maluku. Menurutnya, kepemimpinan Zulkarnain Awat Amir memperlihatkan arah politik yang menempatkan persaudaraan sebagai kekuatan utama pembangunan.
“Bupati Maluku Tengah memperlihatkan kepemimpinan yang mengedepankan politik persaudaraan. Sambutannya bukan hanya formalitas, tetapi mengandung pesan moral yang kuat tentang pentingnya menjaga kebersamaan, adat, dan masa depan generasi muda Maluku,” ujar Darul usai kegiatan pelantikan.
Darul menilai, pendekatan kepemimpinan seperti itu sangat dibutuhkan Maluku saat ini, terutama dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat hubungan antar-negeri di tengah tantangan pembangunan daerah yang semakin kompleks.
Ia juga berharap Raja Siri Sori Islam yang baru dilantik mampu menghadirkan pemerintahan negeri yang progresif, terbuka, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintahan negeri harus terus diperkuat agar pembangunan dapat berjalan berkelanjutan dan menyentuh masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Pelantikan Raja Siri Sori Islam akhirnya tidak hanya menjadi seremoni adat semata, tetapi menjelma menjadi momentum besar penguatan identitas, konsolidasi sosial, dan peneguhan politik persaudaraan di Maluku.
Dari Siri Sori Islam, pesan itu menggema kuat: adat tetap hidup, persaudaraan harus dijaga, dan Maluku hanya bisa dibangun dengan kebersamaan.***







































































Discussion about this post