Ambon, Maluku — Program Ngobrol Pintar (Ngopi) kembali digelar sebagai ruang diskusi publik yang menghadirkan refleksi kritis terhadap persoalan sosial di Maluku. Diskusi yang berlangsung pada Jumat (21/11/2025) ini mengangkat tema “Pembangunan yang Merampas: Membedah Konflik Agraria dan Mencari Peran Kritis Gerakan Sosial di Maluku.”
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai gagasan kritis mengenai hubungan antara pembangunan, penguasaan tanah, dan dinamika gerakan sosial yang berkembang di tengah masyarakat Maluku.
Dalam suasana diskusi yang hangat dan terbuka, peserta terlibat dalam pertukaran pandangan mengenai berbagai persoalan agraria yang dihadapi masyarakat. Diskusi tidak hanya membahas aspek teoritis, tetapi juga menghadirkan refleksi atas pengalaman lapangan dan realitas sosial yang terjadi di berbagai wilayah.
Melalui diskusi ini, peserta diajak untuk memahami secara lebih mendalam wajah konflik agraria di Maluku saat ini, sekaligus meninjau kembali siapa saja pihak yang diuntungkan dan siapa yang justru tersisih dalam proses pembangunan.
Ketua Panitia kegiatan Ngobrol Pintar, Ferry Rangi, mengatakan bahwa diskusi ini sengaja dirancang sebagai ruang refleksi bersama untuk membaca realitas sosial yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, persoalan agraria bukan sekadar isu tanah, tetapi berkaitan erat dengan identitas masyarakat, ruang hidup, serta keberlanjutan kehidupan sosial.
“Diskusi ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana pembangunan sering kali bersentuhan langsung dengan persoalan ruang hidup masyarakat. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun kesadaran kolektif agar proses pembangunan tetap memperhatikan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Ferry.
Ia juga menekankan bahwa forum Ngobrol Pintar hadir sebagai ruang yang mendorong keterlibatan mahasiswa, akademisi, dan masyarakat dalam membaca persoalan sosial secara kritis.
“Ngobrol Pintar tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga ruang belajar bersama untuk memahami dinamika sosial yang terjadi di Maluku, termasuk konflik agraria dan peran gerakan sosial dalam memperjuangkan keadilan,” katanya.
Lebih lanjut, Ferry berharap diskusi semacam ini dapat melahirkan gagasan-gagasan baru yang konstruktif bagi masyarakat.
“Kami berharap dari diskusi ini muncul kesadaran bersama tentang pentingnya memperjuangkan keadilan agraria serta menemukan peran bersama dalam mendorong perubahan sosial yang lebih adil,” tambahnya.
Melalui program Ngobrol Pintar, ruang dialog publik terus dibangun untuk mempertemukan berbagai perspektif kritis sekaligus memperkuat kesadaran kolektif masyarakat dalam memahami persoalan pembangunan, tanah, dan keadilan sosial di Maluku.***







































































Discussion about this post