Ambon, Maluku – Kekecewaan dirasakan masyarakat Negeri Hualoy dan Tomalehu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), terhadap Bupati Asri Arman. Mereka menilai sang bupati bersikap pilih kasih karena kembali tidak menghadiri undangan warga dalam acara pemasangan Quba Masjid Tomalehu, Sabtu (9/11/2025).
Warga menyebut, ketidakhadiran bupati kali ini bukan yang pertama. Sudah beberapa kali Asri Arman diundang dalam acara keagamaan di Hualoy dan Tomalehu, namun selalu mengutus perwakilan. Hal ini membuat warga bertanya-tanya mengenai alasan sang bupati jarang hadir langsung dalam kegiatan masyarakat adat.
“Ini bukan kali pertama bupati tidak hadir. Sudah beberapa kali diundang, namun yang bersangkutan selalu mengutus perwakilan. Mungkin dia punya sentimen politik terhadap masyarakat Hualoy dan Tomalehu,” ujar Acim Lussy, tokoh masyarakat Negeri Hualoy, kepada media ini.
Menurut Acim, sikap tersebut menunjukkan kurangnya perhatian Bupati terhadap masyarakat di dua negeri adat itu. Padahal, sebagai pemimpin daerah, ia seharusnya hadir untuk semua warga tanpa membeda-bedakan latar belakang, suku, maupun pilihan politik.
“Mestinya, sebagai pimpinan, dia harus bijaksana dan tidak pandang bulu. Jangan karena persoalan politik lalu masyarakat tertentu diabaikan. Setelah momentum politik selesai, kami tetap menerima siapa pun yang memimpin kabupaten ini,” sambungnya.
Acim menambahkan, selama ini Bupati Asri Arman dinilai lebih sering berkunjung ke dusun-dusun dibandingkan negeri-negeri adat. Pola ini, kata dia, menimbulkan kesan adanya perlakuan tebang pilih.
“Selama ini dia selalu mengurusi dusun-dusun dan mengabaikan undangan dari masyarakat negeri adat. Padahal bupati itu pemimpin seluruh masyarakat, bukan hanya segelintir orang,” tegasnya.
Ia berharap Bupati dapat memperbaiki hubungan dengan semua lapisan masyarakat agar pembangunan di Kabupaten Seram Bagian Barat dapat berjalan secara adil dan merata.
“Membangun itu harus kolektif, tidak bisa hanya fokus pada kelompok tertentu. Kalau hanya berpihak pada satu sisi, itu bisa merusak semangat kebersamaan dan visi pembangunan daerah,” tutup Acim. (**)








































































Discussion about this post