Ambon, Maluku— Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap keras dan sarat ambisi, Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Provinsi Maluku menghadirkan pelajaran berharga tentang kebesaran jiwa dan etika berpolitik.
Dua figur kuat, Rohalim Boy Sangadji (RBS) dan Bung Umar Lessy, memperlihatkan bahwa politik tidak selalu soal siapa yang menang, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga marwah perjuangan bersama.
Dalam forum paripurna yang berlangsung di Swiss-Belhotel Ambon, Minggu (9/11/2025), Umar Lessy akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Maluku periode 2025–2030.
Namun, keputusan itu tak lahir dari adu kekuatan, melainkan dari jiwa besar RBS yang memilih menyingkir terhormat demi persatuan partai.
Sebelum penetapan berlangsung, dalam Paripurna ke-6, stering committee terlebih dahulu mengumumkan dua bakal calon Ketua DPD I Golkar Maluku, yakni Umar Lessy dan Rohalim Boy Sangadji.
Keduanya diminta untuk menyampaikan pikiran-pikiran konstruktif dalam membangun partai Golkar ke depan. Forum tersebut berjalan hangat dan penuh penghormatan, mencerminkan kedewasaan politik di tubuh partai Beringin.
Padahal, dukungan politik untuk RBS saat itu tidak sedikit, lebih dari 30 persen pemilik suara berdiri di barisannya. Namun, atas dasar pertimbangan yang matang dan hasil konsultasi lintas kader dari generasi ke generasi, RBS mengambil keputusan besar.
Ia memilih untuk mengundurkan diri dengan hormat, setelah mempertimbangkan berbagai aspek dan kepentingan partai.
“Setelah mendengar masukan dari senior, keluarga, dan para pendukung, kami sepakat bergabung mendukung Bang Umar Lessy. Ini keputusan bersama, demi persatuan dan loyalitas terhadap partai,” tutur RBS di hadapan forum, disambut tepuk tangan panjang peserta Musda.
Langkah elegan itu menjadi catatan penting: politik berjiwa besar masih hidup di Golkar Maluku.
Bukan sekedar pencalonan yang berakhir damai, tapi simbol bagaimana perbedaan bisa dilebur dalam semangat kolektif demi cita-cita besar partai.
RBS menunjukkan sikap menghargai proses, menjunjung tinggi demokrasi internal, dan ingin memperkuat tradisi musyawarah yang sehat di tubuh partai Beringin.
Dalam pidato perdananya, Umar Lessy tak lupa menunduk hormat kepada juniornya itu.
“Saya sangat menghargai sikap Bung Boy. Ia adalah sosok muda progresif yang telah menunjukkan loyalitas dan komitmen sejati untuk Golkar. Mari kita bahu-membahu membangun kejayaan partai ini di Maluku,” ujar Umar dengan nada hangat dan penuh rasa hormat.
Musda XI Golkar Maluku pun menjadi panggung persatuan — bukan sekadar ajang perebutan jabatan.
Di forum itulah, dua generasi kader, senior dan muda, bertemu dalam semangat kebersamaan yang tulus, memperlihatkan bahwa kekuatan Golkar bukan hanya pada mesin politiknya, tetapi juga pada karakter manusianya.
Pesan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, kembali menggema: partai harus kembali berjaya dengan kerja nyata.
Umar Lessy menegaskan komitmennya menjadikan pesan itu sebagai pedoman.
“Kita harus menjaga dominasi di parlemen, mempertahankan posisi, dan memperkuat basis rakyat. Ini bukan soal siapa yang duduk di kursi ketua, tapi bagaimana kita bersama menggerakkan mesin partai hingga ke akar rumput,” tegasnya.
Kini, setelah Musda XI, Golkar Maluku melangkah dengan energi baru. Semangat kebesaran jiwa RBS dan kepemimpinan bijak Umar Lessy menjadi fondasi kokoh untuk membangun soliditas partai.
Keduanya membuktikan, politisi sejati bukan tentang saling menjatuhkan, melainkan saling menegakkan, demi kejayaan bersama di tanah Raja-Raja.***








































































Discussion about this post