Dobo, Maluku— Di tengah kepercayaan rakyat terhadap aparat negara sebagai penjaga ketertiban dan martabat bangsa, sebuah peristiwa memilukan justru mencoreng citra institusi pertahanan itu sendiri.
Seorang oknum TNI Angkatan Udara (AURI) yang diduga memimpin satuan di Kota Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, terekam kamera warga melakukan tindakan brutal terhadap sesama anggota TNI di sebuah tempat hiburan malam.
Sosok dalam rekaman itu diketahui berinisial Letda IH, seorang perwira pertama yang seharusnya menjadi panutan bagi para prajurit di bawahnya.
Namun, dalam tiga video yang tersebar luas — masing-masing berdurasi 2 menit 36 detik, 1 menit 36 detik, dan 47 detik — Letda IH tampak kehilangan kendali, mengamuk hingga memukul seseorang yang diduga anggota TNI lainnya.
Tempat kejadiannya, Kafe Adiskal, sebuah lokasi hiburan malam yang selama ini dikenal sebagai titik rawan gesekan sosial di Dobo.
Antara Seragam dan Kekuasaan: Ketika Garuda Terluka oleh Cakar Sendiri
Video tersebut tak hanya menunjukkan kekerasan fisik. Ia menyiratkan sesuatu yang lebih dalam — keretakan di tubuh institusi yang selama ini dikenal dengan disiplin dan soliditas.
Warga yang memberikan video identitasnya kami lindungi demi keamanan, mengungkapkan bahwa peristiwa itu terjadi tiba-tiba.
“Awalnya saya kira hanya cekcok biasa. Tapi ketika lihat yang terlibat adalah aparat, kami langsung syok. Itu bukan pemandangan yang layak dari seorang TNI,” ujarnya lirih.
Dalam penelusuran lebih lanjut, Letda IH disebut-sebut kerap bersikap arogan. Sejumlah sumber internal menyebut, gaya kepemimpinannya lebih menyerupai preman ketimbang seorang komandan satuan.
Padahal, bagi masyarakat Dobo — wilayah kepulauan yang jauh dari sorotan media pusat — TNI bukan hanya simbol pertahanan, tapi juga pengayom dalam arti luas. Mereka dipercaya hadir tak sekadar dengan senjata, tetapi juga hati.
TNI yang Kami Cintai, Bukan yang Kami Takuti
Peristiwa ini menggores luka yang lebih dalam daripada sekadar insiden kekerasan antaranggota. Ia menggugah pertanyaan: apakah seragam sudah kehilangan maknanya? Apakah pangkat lebih tinggi dari rasa kemanusiaan?
Masyarakat Dobo kini menuntut jawaban. Bukan hanya dari individu pelaku, tetapi juga dari institusi tempatnya bernaung. Apakah TNI AU akan menutup mata? Atau justru mengambil sikap tegas demi menjaga kehormatan yang tersisa?
Di tengah sorotan ini, warga yang enggan namanya disebutkan meminta Komandan Lanud Dumatubun untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“Kita masih percaya bahwa TNI adalah penjaga rakyat. Tapi penjaga pun harus sadar: kepercayaan bukan warisan. Ia dibangun dengan sikap, dijaga dengan empati, dan dijunjung tinggi dengan keteladanan. Kalau sikap premanisme seprti fakta yang ada, segera dievaluasi saja,” pungkasnya.***







































































Discussion about this post