Ambon, Maluku– Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon menggelar kegiatan diskusi bertajuk Ngobrol Pintar IAKN Ambon dengan tema “Moderasi Beragama” pada Rabu, 31 September 2025. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Diskusi Terbuka Kampus IAKN Ambon ini menghadirkan Abdul Kadir Mualo, M.H sebagai narasumber.
Diskusi yang dimulai pukul 10.00 WIT hingga selesai tersebut diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika kampus, dengan tujuan memperkuat pemahaman tentang pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, khususnya di Kota Ambon.
Dalam pemaparannya, Abdul Kadir Mualo menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara pandang dan sikap dalam menjalankan ajaran agama secara adil, seimbang, serta tidak berlebihan.
“Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, tetapi bagaimana umat beragama mampu menghindari sikap ekstrem dan hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain,” ujar Abdul Kadir dalam diskusi tersebut.
Ia menekankan bahwa sikap moderat dalam beragama sangat penting dalam masyarakat yang plural, karena dapat mendorong terciptanya dialog, toleransi, serta penghargaan terhadap keberagaman keyakinan.
Lebih lanjut, Abdul Kadir Mualo menyoroti kondisi sosial keagamaan di Kota Ambon yang dikenal sebagai wilayah dengan keberagaman agama dan budaya.
Menurutnya, keberadaan komunitas Islam dan Kristen yang hidup berdampingan telah menjadi bagian dari karakter sosial masyarakat Ambon.
“Kota Ambon memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat yang plural. Keberagaman ini merupakan kekayaan sosial yang harus terus dijaga agar tidak menjadi sumber konflik,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengalaman konflik sosial yang pernah terjadi di Maluku pada periode 1999–2002 menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan memperkuat nilai-nilai perdamaian.
Dalam kesempatan itu, Abdul Kadir juga menyoroti peran kearifan lokal Maluku dalam menjaga moderasi beragama. Ia menyebut sistem Pela Gandong sebagai salah satu contoh kuatnya nilai persaudaraan lintas agama yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Pela Gandong mengajarkan bahwa masyarakat dari negeri yang berbeda, bahkan berbeda agama, tetap terikat sebagai saudara. Nilai ini menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial di Maluku,” jelasnya.
Selain itu, prinsip hidup orang basudara yang dikenal luas di masyarakat Maluku juga dinilai sebagai modal sosial yang memperkuat hubungan antarumat beragama.
Menurutnya, penguatan moderasi beragama tidak hanya menjadi tanggung jawab tokoh agama atau pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Mualo menilai bahwa pendidikan, dialog lintas agama, serta kegiatan sosial bersama dapat menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan antar komunitas.
“Penguatan moderasi beragama dapat dilakukan melalui dialog lintas agama, pendidikan toleransi di lembaga pendidikan, serta keterlibatan tokoh agama dan tokoh adat dalam menjaga keharmonisan sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan sosial bersama seperti kerja bakti, aksi kemanusiaan, maupun perayaan budaya bersama dapat memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang beragam.
Melalui kegiatan Ngobrol Pintar IAKN Ambon ini, diharapkan mahasiswa dan masyarakat semakin memahami pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan sosial yang damai dan harmonis di Kota Ambon.
“Jika nilai-nilai agama dipadukan dengan kearifan lokal dan kesadaran masyarakat akan pentingnya toleransi, maka kehidupan yang rukun dan saling menghargai dapat terus terjaga,” pungkas Mualo.***







































































Discussion about this post