Ambon, Maluku,— Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa bagi Ibu Amna Holle (79). Dengan langkah tertatih, ia kembali menjalani rutinitas yang telah bertahun-tahun dilakoninya: berjalan ke rumah tetangga hanya untuk mendapatkan air. Namun Rabu pagi, 1 April 2026, rutinitas itu berubah menjadi petaka.
Usai mengambil air dari sumur milik tetangga, Ibu Amna terjatuh di kamar mandi rumahnya. Tubuh renta yang sudah melemah tak mampu lagi menahan keseimbangan.
Ia mengalami luka sobek di bagian kepala dan kini hanya bisa terbaring lemah, dirawat di rumah warga sekitar.
“Beta biasa ambil air di tetangga, karena seng ada air di rumah. Tadi beta rasa lemas, seng kuat, jadi jatuh,” tuturnya lirih.
Kisah Ibu Amna bukan sekedar cerita tentang kecelakaan seorang lansia. Ia adalah potret sunyi dari kehidupan yang luput dari perhatian. Bertahun-tahun tinggal di rumah tidak layak huni tanpa akses air bersih, perempuan paruh baya asal Negeri Siri-Sori Islam, Kecamatan Saparua Timur ini menjalani hari-harinya dalam keterbatasan—tanpa sentuhan nyata dari pelayanan publik yang semestinya hadir.
Bagi warga setempat, peristiwa ini bukan hal yang mengejutkan. Kondisi Ibu Amna sudah lama diketahui, namun seakan dibiarkan berjalan tanpa solusi.
“Ini bukan baru. Sudah lama begini, tapi tidak ada perhatian serius,” ungkap salah satu warga.
Di tengah berbagai program bantuan sosial dan perumahan yang digaungkan pemerintah, realitas yang dialami Ibu Amna justru memperlihatkan ketimpangan.
Bantuan yang seharusnya menyasar warga paling rentan, dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran.
Sorotan pun mengarah pada lemahnya pengawasan dan respons pemerintah di tingkat kecamatan dan negeri.
Sejumlah warga menilai, kepemimpinan yang ada belum mampu menangkap kondisi nyata masyarakat di lapangan, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekstrem.
Desakan evaluasi terhadap jajaran pemerintah setempat mulai menguat. Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar administrasi atau prosedur, melainkan soal kemanusiaan.
“Kalau hal seperti ini terus terjadi, wajar kalau masyarakat menuntut perubahan. Ini tentang nyawa dan martabat manusia,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak kecamatan maupun pemerintah negeri terkait insiden yang dialami Ibu Amna.
Di usia yang seharusnya diisi dengan ketenangan, Ibu Amna justru harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan paling dasar: air dan tempat tinggal yang layak. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pelayanan publik tidak boleh berhenti pada angka dan laporan, tetapi harus benar-benar hadir menyentuh kehidupan masyarakat—terutama mereka yang paling membutuhkan.
Kisah Ibu Amna Holle adalah cermin. Sebuah pengingat pahit bahwa di balik program dan kebijakan, masih ada warga yang berjalan sendirian dalam sunyi—menunggu negara datang, namun tak kunjung tiba.***







































































Discussion about this post