Ambon, Maluku— Kasus penikaman yang menewaskan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Nus Rumatora alias Nus Kei, mengungkap fakta mengejutkan. Salah satu terduga pelaku, Hendraikus (Hendrikus) Rahayaan (28), diketahui merupakan atlet bela diri berprestasi yang dikenal dengan julukan “Bad Boy from Kei”.
Peristiwa penikaman terjadi pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 11.25 WIT di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun, sesaat setelah korban tiba dari Jakarta. Korban diserang secara tiba-tiba menggunakan senjata tajam sebelum akhirnya meninggal dunia akibat luka serius.
Kepolisian bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari dua jam, aparat Polres Maluku Tenggara berhasil mengamankan dua terduga pelaku, masing-masing Hendraikus Rahayaan dan Finansius Ulukyanan (36), yang diketahui berasal dari Desa Hollat.
Sorotan publik kini tertuju pada sosok Hendraikus. Di luar kasus yang menjeratnya, ia dikenal sebagai atlet bela diri potensial asal Kepulauan Kei. Lahir di Desa Watran dan dibesarkan di Desa Hollat, Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Hendraikus merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Rafael Rahayaan dan Rufina Ulukyanan.
Perjalanan kariernya di dunia bela diri dimulai dari Sasana Rambo Muay Thai 4294 di Semarang. Di tempat tersebut, ia membangun fondasi teknik dan mental bertarung sebelum memutuskan kembali ke daerah asalnya. Di Maluku Tenggara, ia bergabung dengan Sasana 3H Gym di kawasan Perumnas untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membawa nama daerah di ajang kompetisi.
Langkah tersebut membuahkan hasil. Hendraikus mencatat sejumlah prestasi, di antaranya medali emas cabang Wushu pada Pekan Olahraga Provinsi (Popmal) Maluku, dua medali emas di ajang One Pride MMA, serta medali emas Pra-PON dan medali perunggu pada Pekan Olahraga Nasional (PON).
Dikenal memiliki gaya bertarung agresif dan penuh tekanan sejak awal ronde, julukan “Bad Boy from Kei” melekat kuat pada dirinya. Ia juga menguasai berbagai disiplin bela diri, mulai dari Muay Thai, kickboxing, tinju, hingga mixed martial arts (MMA).
Setelah menorehkan prestasi di daerah, Hendraikus kembali ke Semarang untuk melanjutkan studi sekaligus memperkuat kariernya. Ia bahkan sempat meraih medali emas dalam turnamen Muay Thai Open se-Jawa dan tengah dipersiapkan untuk kembali tampil di ajang One Pride MMA.
Namun, perjalanan karier yang tengah menanjak itu kini tercoreng oleh keterlibatannya dalam kasus kriminal serius. Kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan objektif dan profesional tanpa memandang latar belakang pelaku.
Kepala Bidang Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami motif serta peran masing-masing pelaku dalam insiden tersebut.
“Penanganan kasus ini dilakukan secara cepat, profesional, dan terukur. Kami masih melakukan pendalaman terkait motif dan keterlibatan para pelaku,” ujarnya.
Kapolda Maluku juga telah menginstruksikan jajarannya untuk mengusut tuntas perkara ini secara transparan, sekaligus menjaga stabilitas keamanan di wilayah Maluku Tenggara.
Kasus ini menjadi perhatian luas, tidak hanya karena korbannya merupakan tokoh politik daerah, tetapi juga karena salah satu terduga pelaku memiliki latar belakang sebagai atlet berprestasi yang sebelumnya dikenal sebagai inspirasi bagi generasi muda.***








































































Discussion about this post