Piru, Maluku– Batu marmer dan batuan gamping sering kali disamakan karena keduanya sama-sama mengandung kalsium karbonat, padahal sejatinya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Batuan gamping atau limestone terbentuk dari endapan alami cangkang hewan laut, koral, serta organisme kecil yang menumpuk selama ribuan hingga jutaan tahun di dasar laut.
Sementara marmer sebenarnya berasal dari batu gamping juga, namun telah mengalami proses metamorfosis, yakni perubahan akibat tekanan dan suhu tinggi di dalam bumi dalam waktu yang sangat panjang. Proses inilah yang membuat marmer berbeda karakter dan tampil lebih indah dibandingkan gamping.
Secara fisik, gamping biasanya tampak pucat dengan warna putih, abu-abu, atau krem, teksturnya lunak, mudah tergores, dan sering terlihat pori-pori kecil di permukaannya.
Sebaliknya, marmer lebih keras, padat, serta memiliki kilau alami dengan corak urat-urat yang unik. Inilah yang membuat marmer dikenal sebagai batu bernilai tinggi dan kerap digunakan untuk mempercantik bangunan.
Dari sisi kegunaan, gamping banyak dipakai sebagai bahan dasar bangunan sederhana, pembuatan semen, kapur tulis, hingga penetral tanah asam dalam pertanian. Sementara marmer lebih populer sebagai material dekoratif dan seni, seperti lantai, dinding, meja, patung, atau interior rumah mewah.
Dari nilai ekonominya, gamping jauh lebih murah karena relatif mudah ditemukan dan memiliki fungsi praktis sehari-hari. Sedangkan marmer harganya berkali-kali lipat lebih tinggi karena terbentuk melalui proses panjang dan tampilannya yang elegan.
Singkatnya, gamping bisa disebut sebagai bahan mentah alami, sedangkan marmer adalah “versi mewah” dari gamping yang telah dipoles oleh alam melalui panas dan tekanan bumi.
Perbedaan ini penting dipahami karena gamping bukan sekadar batu biasa, melainkan sumber daya yang punya peranan besar dalam pembangunan.
Memanfaatkan Potensi Gamping
Potensi tersebut kini mulai dimanfaatkan di Kabupaten Seram Bagian Barat. Pada Rabu (3/8), Pemerintah Kabupaten SBB melepas pengiriman perdana bahan tambang berupa batu gamping dari Desa Hulung, Kecamatan Taniwel.
Pengiriman perdana ini dipimpin langsung oleh Bupati Seram Bagian Barat, Ir. Asri Arman, didampingi Ketua TP PKK Ny. Yeni Rosbayani Asri, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) antara lain Dandim 1513/SBB, Kapolres SBB AKBP Andi Zulkifli, Kajari SBB Anto Widi Nugroho, dan Sekda Kabupaten SBB Alvin Tuasuun.
Hadir pula sejumlah pimpinan OPD, Danki Brimob, Komisaris dan Direktur PT Gunung Makmur Indah, para kepala desa se-Kecamatan Taniwel Timur, hingga tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, serta insan pers.
Dalam sambutannya, Bupati Asri Arman menegaskan bahwa keberadaan tambang batu gamping harus memberi manfaat luas bagi masyarakat, bukan hanya untuk perusahaan.
Ia berharap keberadaan tambang bisa meningkatkan perekonomian daerah, membuka lapangan kerja, sekaligus menyejahterakan masyarakat. Namun, ia menekankan pentingnya pengelolaan secara bijak tanpa merusak lingkungan, dengan selalu memperhatikan analisis dampak lingkungan.
Momentum pengiriman perdana ini sekaligus menandai peran PT Gunung Makmur Indah sebagai mitra pengelola tambang yang diharapkan mampu berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat setempat.
Harapan besar kini ditaruh pada sektor ini agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Bumi Saka Mese Nusa. Acara tersebut berlangsung khidmat, ditutup doa bersama yang dipimpin tokoh agama, sebelum prosesi simbolis pengiriman batu gamping ke luar daerah dilakukan.***






































































Discussion about this post