Ambon, Maluku — Suasana intelektual terasa hangat di Hanna Kafe, kawasan kampus UIN AMSA Ambon, Sabtu (8/11/2025). Porgam Ngobrol Pintas (NGOPI) yang digagas Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) menggelar agendanya dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN AMSA.
Agenda dalam bentuk forum diskusi itu mengupas tema “Membedah Politik Identitas dan Dinamika Kelas Sosial di Maluku.”
Program Ngopi merupakan inovasi akademik FISK IAKN Ambon yang dirancang untuk mengasah nalar kritis dan kepekaan sosial mahasiswa lintas kampus.
Tiga narasumber utama hadir memantik percakapan ilmiah, yakni Ketua KPU Seram Bagian Barat Abu Kasilaya, Dosen IAKN Ambon Yamres Pakniani, dan Mabincab PMII Kota Ambon Fais Yahya Marasabess, dengan moderator Muis Pikahulan, Dosen IAKN Ambon.
Kegiatan dibuka oleh Robby Marlissa, Wakil Dekan II FISK IAKN Ambon, yang mewakili dekan fakultas Febby Nancy Patty.

Dalam sambutannya, Marlissa menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kampus sebagai wujud nyata semangat “kampus basudara” di Maluku.
“Atas nama dekan fakultas, kami menyampaikan apresiasi kepada PMII UIN AMSA atas kerja sama intelektual ini. Diskusi seperti ini menjadi ruang belajar bersama, mempertemukan pemikiran yang beragam, dan menumbuhkan semangat kebersamaan lintas iman serta lintas kampus,” ujar Marlissa.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini perlu dilanjutkan secara berkelanjutan agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis dan reflektif terhadap fenomena sosial-politik di Maluku.
“IAKN dan UIN AMSA adalah kampus basudara. Semangat kebersamaan ini harus terus kita rawat sebagai bagian dari tanggung jawab moral civitas akademika terhadap Maluku yang damai dan berkeadilan,” tambahnya.
Sementara itu, Yunus Naga, Ketua Bidang Keorganisasian PMII Komisariat UIN AMSA, menilai tema diskusi sangat relevan dengan kondisi sosial politik Maluku yang kerap diwarnai persoalan identitas dan ketimpangan kelas.
“Diskusi ini penting karena memberi pemahaman kepada mahasiswa tentang bagaimana politik identitas berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat Maluku. Kita harus melampaui sekat primordial dan membangun kesadaran kolektif untuk melihat Maluku secara utuh dan inklusif,” tegasnya.

Menurut Yunus, Ngopi bukan sekadar forum akademik, melainkan juga ruang kaderisasi intelektual bagi mahasiswa lintas kampus untuk menumbuhkan kepekaan terhadap isu sosial, politik, dan budaya lokal.
Kegiatan berlangsung hangat dan partisipatif, dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Ambon. Turut hadir pula Ketua DPD KNPI Maluku, Arman Kalean, yang memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya forum diskusi tersebut.
Diskusi mengalir dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis seputar relasi antara politik identitas, distribusi kekuasaan, serta dampaknya terhadap struktur kelas sosial di Maluku.
“Ngobrol Pintar FISK IAKN Ambon kami harapkan menjadi ruang dialog lintas kampus yang konsisten mengangkat tema-tema reflektif dan meneguhkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial di Maluku,” singkat ketua DPD KNPI Arman Kalean saat dimintai tanggapannya.
Kalean akui, Forum Ngopi ini menjadi cermin, dunia kampus di Maluku terus bergerak menyalakan obor intelektual di tengah kompleksitas sosial. Serta meneguhkan semangat hidup orang basudara dalam bingkai pengetahuan dan kebersamaan.***







































































Discussion about this post