Satu Atap Empat Agama: Jejak Toleransi dari Dusun Yalahatan Malteng yang Menginspirasi Dunia

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 6 Juli 2025 - 02:38 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Masohi, Maluku– Di tengah dinamika global yang kerap diwarnai konflik antaragama, sebuah dusun kecil di Provinsi Maluku justru menunjukkan wajah lain dari Indonesia: sejuk, harmonis, dan sarat makna toleransi. Dusun Yalahatan, yang terletak di Negeri Tamilouw, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.

Kisah inspiratif ini dituangkan secara mendalam dalam buku berjudul “Satu Atap Empat Agama; Belajar Toleransi dari Masyarakat Yalahatan”, karya Muhamad Nasir Pariusamahu, M.Pd., seorang pegiat literasi yang juga menjabat sebagai Kabid Literasi DPD KNPI Maluku dan Sekretaris Umum PGM Indonesia Maluku.

Satu Atap, Empat Keyakinan

Apa yang menjadikan Dusun Yalahatan unik? Di tengah masyarakat Maluku yang umumnya hidup dalam lingkungan agama yang relatif homogen, Yalahatan justru memeluk keragaman.

Di sana, Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu lokal (agama adat) hidup berdampingan—bukan hanya antar rumah, tapi dalam satu atap keluarga.

Lebih dari sekadar bertoleransi, masyarakat Yalahatan mempraktikkan keberagaman secara utuh dalam kehidupan sehari-hari: merayakan hari besar keagamaan bersama, saling membantu dalam ritual keagamaan satu sama lain, bahkan dalam struktur keluarga yang terdiri dari lebih satu agama.

Baca Juga :  Pelantikan HIPMI Malteng, MRM: Saatnya Pemuda Ambil Peran Strategis

“Di Yalahatan, perbedaan tidak dijadikan alasan untuk menjauh, melainkan untuk saling merangkul,” ujar Nasir kepada saat ditanyai perihal karya dimaksud.

“Saya ingin dunia tahu bahwa harmoni itu mungkin, bahkan dalam perbedaan yang paling mendasar sekalipun,” tambahnya.

Literasi dan Kearifan Lokal sebagai Pilar Perdamaian

Dalam buku ini, Nasir tak sendiri, dia bersama rekannya Syamsuar Hamka menyajikan cerita-cerita harian masyarakat Yalahatan, tetapi juga menelaah secara kritis nilai-nilai kearifan lokal yang menopang tradisi toleransi tersebut.

Nasir melihat bahwa keberhasilan Yalahatan menjaga kerukunan tidak terlepas dari budaya lokal yang menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan kepada leluhur, dan rasa saling memiliki antarwarga.

“Kearifan lokal memiliki peran vital dalam membangun ruang sosial yang damai,” tegas Nasir. “Literasi budaya dan religius menjadi fondasi yang kuat untuk memperkuat ikatan sosial dan menghindari konflik.”

Sumbangsih Bagi Perdamaian Bangsa

“Satu Atap Empat Agama” bukanlah karya biasa. Buku ini merupakan hasil kontemplasi, observasi, dan interaksi langsung dengan masyarakat yang menjadi subjeknya. Ia juga ditulis dalam semangat lomba penulisan kepustakaan Islam yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Juga :  Pemprov Maluku Pertimbangkan Pinjaman Daerah, Skema Pembangunan Jalan "Neraka" Lingkar Huamual Ada di Dalam

Dalam prosesnya, Nasir mengucapkan terima kasih kepada tokoh-tokoh nasional seperti Prof. Dr. Phil. H. Kamarudin Amin, M.A., dan Dr. H. Adib, M.Ag., serta masyarakat Yalahatan yang dengan terbuka membagikan kisah mereka.

Sosok Penulis: Penggerak Literasi dari Timur Indonesia

Muhamad Nasir Pariusamahu bukanlah nama baru dalam dunia literasi kepulauan. Selama lebih dari satu dekade, ia aktif sebagai penulis, guru, dan pembicara di berbagai forum pendidikan dan kebudayaan.

Ia juga dikenal sebagai inisiator gerakan literasi “Satu Guru Satu Tulisan” (SAGUSATU) dan “Satu Siswa Satu Tulisan” (SASISATU) yang bertujuan menumbuhkan budaya menulis di kalangan pendidik dan pelajar di Maluku.

Kontribusinya dalam dunia kepenulisan membawanya meraih berbagai penghargaan dari Kementerian Agama RI dan DPP PGM Indonesia. Ia juga ikut menyumbangkan gagasan dalam buku nasional ASEAN Episentrum Pertumbuhan Dunia bersama ratusan penulis dari seluruh Indonesia.

Lebih dari Sekadar Buku

Lewat “Satu Atap Empat Agama”, Nasir tidak sekadar menulis, ia menyuarakan harapan. Harapan akan Indonesia yang lebih toleran, damai, dan saling menghargai perbedaan.

“Masyarakat Yalahatan telah membuktikan bahwa toleransi bukanlah utopia. Ia nyata, bisa diwujudkan, dan bisa diwariskan,” tutup Nasir.***

Baca: “Satu Atap Empat Agama; Belajar Toleransi dari Masyarakat Yalahatan”, karya Muhamad Nasir Pariusamahu, M.Pd.

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT
Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah
BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM
Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla
Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses
ICMI Maluku Gelar Maluku Business Forum 2026, Jusuf Kalla Tiba di Ambon Disambut Pangdam Pattimura dan Wagub
Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN
PAMA Dukung 17 Program Prioritas Pemkot Ambon, Sangadji: Pemuda Harus Jadi Motor Pembangunan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 08:21 WIT

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 November 2026 - 05:23 WIT

Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah

Senin, 2 November 2026 - 04:00 WIT

BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM

Senin, 2 November 2026 - 02:20 WIT

Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla

Minggu, 1 November 2026 - 14:29 WIT

Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT