Tanimbar, Maluku — Umat paroki Gereja Hati Kudus Yesus Olilit Barat merayakan Paskah dengan khidmat pada Minggu pagi, 5 April 2026. Perayaan Ekaristi Paskah dimulai tepat pukul 08.00 WIT dan dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, RD. Ponsio Ongirwalu.
Dalam kotbahnya yang berjudul “Menemukan Harapan di Tengah Kubur Kosong”, Pastor Ponsio mengajak umat merenungkan pengalaman Maria Magdalena yang datang ke makam Yesus saat hari masih gelap, sebuah simbol kegelapan batin yang pekat.
“Ketika murid-murid Yesus bersama Bunda Tersuci Maria masih dalam kegalutan hati yang mendalam atas wafatnya Yesus Kristus, Yohanes dalam Injil mengisahkan bahwa Maria Magdalena datang ke makam saat hari masih gelap. Secara fisik itu adalah subuh, namun secara batiniah Yohanes hendak mengatakan bahwa Maria Magdalena berada dalam kegelapan batin yang pekat,” ujar Pastor Ponsio.
Ia menjelaskan bahwa Maria Magdalena adalah tipe manusia yang sama dengan jemaat pada umumnya, hidupnya gelap, penuh tantangan dan pergumulan. Namun saat dunia menolaknya, Yesus tidak pernah menolaknya.
“Ketika semua orang hendak merajam dia sebagai wanita pelacur, wanita pendosa, Yesus sang Penyelamat dunia tidak pernah menggubris apa kata dunia. Yesus melihat kedalaman hati setiap manusia, termasuk Magdalena. ‘Barang siapa tidak pernah berbuat dosa, hendaklah ia yang pertama mengambil batu dan melempari wanita ini.’ Di situlah tidak ada manusia yang berani merajam Maria Magdalena,” kenang pastor tersebut.
Pastor Ponsio menekankan bahwa ketika Maria Magdalena memutuskan mengikuti Yesus, ia meninggalkan masa lalu yang penuh dosa.
“Dosa itu membawa rahmat pertobatan untuk bisa berubah,” tegasnya.
Kubur Kosong Bukan Akhir Segalanya
Lebih lanjut, RD. Ponsio yang juga Vikaris Episkopal KKT dan MBD itu menyoroti momen ketika Maria Magdalena melihat kubur Yesus telah terbuka dan Yesus tidak ada di sana. Dalam ungkapan Maria, Yesus telah hilang dan diambil orang.
“Hal ini seringkali membuat hidup kita, ketika mengalami beban, pergumulan, sakit penyakit, kita berkata, ‘Tuhan tidak mencintai saya.’ Di balik ketakutan itu, kita sering mengambil jalan lain, takut datang kepada Tuhan, takut meminta dalam doa, Novena dan ekaristi,” ujarnya.
Namun Pastor Ponsio mengajak umat belajar dari Maria bahwa kegelapan bukanlah akhir.
“Di balik kegelapan kubur, ada sebuah cahaya bagaikan rahim kudus yang akan menjadi keajaiban, di mana tersimpan rahmat bagi anda dan saya.”
Ia juga mengangkat teladan Yohanes dan Petrus yang ketika mendengar kabar dari Maria berlari ke makam karena memiliki urgensi.
“Mereka melihat bukan sebuah mayat, melainkan kain peluh dan kain kafan tersusun rapi, itu adalah bukti bahwa Yesus telah bangkit bagi kita semua.”
Ajakan Berlari Kepada Yesus
Di akhir kotbahnya, Pastor Ponsio melontarkan pertanyaan reflektif kepada umat: “Apakah kita akan seperti Yohanes dan Petrus yang ketika dalam masalah cepat-cepat berlari dan datang kepada Yesus?”
Ia menegaskan bahwa pesan Paskah hari ini hendak mengatakan bahwa setiap orang sama seperti Maria Magdalena.
“Apa kata orang tentangmu, di balik kekelaman hidup ini, satu hal yang pasti, Tuhan selalu mendengarkan dan menyelamatkanmu.”
Perayaan Ekaristi Paskah berlangsung khidmat dan diikuti oleh ratusan umat dari berbagai rukun di Olilit Barat dan sekitarnya.
Suasana sukacita kebangkitan tampak dari wajah-wajah umat yang hadir, mengenakan pakaian terbaik mereka untuk merayakan kemenangan Kristus atas maut.








































































Discussion about this post