Huamual, Maluku – Situasi di Dusun Laala, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Senin (6/4/2026), terpantau memanas dan nyaris berujung bentrokan antar kelompok massa. Aksi damai penolakan aktivitas tambang nikel oleh masyarakat Negeri Luhu berubah tegang setelah terjadi adu mulut sengit dengan pemuda Desa Lokki.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sekitar pukul 14.00 WIT, puluhan massa dari Negeri Luhu yang dipimpin langsung Raja Abdul Gani Kaliky bersama kepala soa dan perwakilan 12 marga menggelar aksi penolakan terhadap aktivitas PT Manusela Prima Mining (MPM) di kawasan Gunung Pengoboran, wilayah Laala.
Aksi berlangsung tertib dengan pemasangan spanduk penolakan yang menegaskan larangan keras terhadap seluruh aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi tanpa izin masyarakat adat Negeri Luhu.
Namun, situasi mulai berubah tegang usai aksi pemalangan selesai. Saat rombongan Luhu bergerak kembali menuju pesisir Laala untuk kembali ke Piru, mereka dihadang sekelompok pemuda Desa Lokki.
Dari rekaman video yang beredar dan hasil pantauan di lapangan, terdengar teriakan provokatif dan saling maki antar kedua kelompok. Kata-kata keras dilontarkan secara terbuka, memicu emosi massa di kedua pihak.
Ketegangan meningkat cepat menjadi adu mulut sengit. Bahkan, situasi sempat berubah menjadi aksi saling kejar, yang berpotensi memicu bentrokan fisik terbuka.
Beruntung, aparat gabungan TNI dan Polri yang telah bersiaga di lokasi bergerak cepat mengendalikan massa. Petugas langsung memisahkan kedua kelompok dan melakukan pengamanan ketat untuk mencegah konflik meluas.
Intervensi cepat aparat berhasil meredam situasi yang nyaris chaos. Tidak ada laporan korban dalam insiden tersebut.
Setelah kondisi relatif terkendali, rombongan masyarakat Negeri Luhu berhasil dievakuasi menuju kapal dan meninggalkan lokasi kembali ke wilayah mereka.
Sementara itu, tidak lama berselang, kelompok pemuda dan warga Desa Lokki bergerak menuju lokasi tambang. Dalam aksi lanjutan tersebut, mereka menurunkan spanduk pemalangan yang sebelumnya dipasang oleh massa Negeri Luhu, sebagai bentuk penolakan terhadap klaim wilayah yang dipersoalkan.
Menjelang sore hari, situasi di Dusun Laala berangsur kondusif. Massa dari kedua pihak mulai membubarkan diri dan kembali ke desa masing-masing.
Insiden ini memperlihatkan tingginya tensi konflik horizontal di tengah polemik aktivitas tambang nikel di wilayah Huamual, khususnya terkait klaim tanah ulayat dan kepentingan masyarakat setempat.
Sebelumnya, masyarakat Negeri Luhu telah menyampaikan sikap resmi penolakan terhadap aktivitas pertambangan kepada Pemerintah Kabupaten SBB. Aspirasi tersebut diterima langsung oleh Wakil Bupati Selfinus Kainama di Kantor Bupati.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Manusela Prima Mining terkait insiden di lapangan. Sementara itu, aparat keamanan masih bersiaga guna mengantisipasi potensi konflik lanjutan di wilayah tersebut.***








































































Discussion about this post