Piru, Maluku– Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Seram Bagian Barat menilai pembangunan Maluku Integrated Port (MIP) di Waisarisa, yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional, merupakan peluang besar untuk mendorong kemajuan ekonomi dan konektivitas wilayah.
Ketua PC IMM SBB, Iwan Faisal Tuhuteru, menegaskan bahwa posisi strategis Waisarisa di jalur perdagangan Maluku menjadikan proyek ini sebagai “pintu besar” yang harus dijemput dan dioptimalkan oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.
“Jika dikelola dengan visi yang jelas dan berpihak pada rakyat, MIP dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan ekonomi Seram Bagian Barat,” ujar Iwan dalam keterangan resminya.
Namun, IMM SBB mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini hanya bisa dicapai melalui komitmen bersama untuk memastikan seluruh proses berjalan transparan, akuntabel, dan mengutamakan kepentingan masyarakat lokal. Iwan merinci empat poin sikap IMM SBB:
- Keterbukaan Informasi dan Partisipasi Publik – Perencanaan, penganggaran, hingga analisis dampak lingkungan (AMDAL) harus dibuka ke publik, dengan melibatkan masyarakat, tokoh adat, dan akademisi.
- Keberlanjutan dan Perlindungan Lingkungan – Ekosistem pesisir Waisarisa harus dilindungi, dan pembangunan tidak boleh mengorbankan ruang hidup nelayan tradisional.
- Pemberdayaan Ekonomi Lokal – MIP harus menjadi penggerak ekonomi rakyat, membuka lapangan kerja bagi warga setempat, dan memberi peluang usaha untuk UMKM serta nelayan lokal.
- Pengawasan Kolektif – IMM SBB berkomitmen mengawal proyek ini secara kritis dan konstruktif, menolak segala bentuk penyimpangan dan monopoli kepentingan.
Iwan menegaskan, IMM tidak hadir semata untuk mengkritik, melainkan untuk memastikan pembangunan benar-benar memihak kepentingan rakyat.
“Sebaliknya, jika prinsip keterbukaan dan keberlanjutan diabaikan, proyek ini berisiko menjadi sumber masalah baru di masa depan,” tutupnya.***








































































Discussion about this post